Posted by: biru langit | 10/12/2009

Mata Hati: hanya sebuah cerpen (bag.2 lanjutan)

by dari azzura…

poligami

Tanganku terasa sakit dan perih, ada darah segar yang mengalir di sela-sela jariku. Pecahan kaca cermin berserakan di lantai, kupunguti puing-puingnya. Seperti hati ini. untuk yang kedua kalinya Aku menatap hampa selembar kertas yang berisi nama seseorang . Ada orang asing yang ingin masuk dalam kehidupanku.

Hari berlalu. Meski aku sudah tak punya cinta lagi untuk kupersembahkan, tapi aku berusaha untuk menerimanya.
Dan malampun terus terlewati. Mungkin karena aku sudah tak punya cinta lagi. Ketika ia membatalkan niatnya, aku sudah tak peduli. Tak ada sesal, sedih, maupun kecewa. Bukankah masih ada Allah, masih ada teman-teman seperjuangan, masih ada orang-orang yang selalu membutuhkanku.” Tetaplah tegar dan semangat! Jalan dakwah masih panjang!” satu sisi batinku selalu berseru. Dan aku selalu mengiyakan, membenarkan, bahkan menjadikan sesuatu yang terindah dalam hidupku. Meskipun hujan badai, pekatnya malam, atau melewati jurang sekalipun.

“Wa’tashimu bi hablillahi jami’a wa laa tafarroqu, wadzkuru ni’matallohi ‘alaikum idz kuntum a’daa an fa allafa bayna quluu bikum faashbahtum bini’matihii ikhwaana. Wa kuntum ‘ala syafa hufrotin mina naari faanqodzakum minha. Kadzalika yubayyinullohu lakum ayatihi la’alakum tahtaduun. Wal takun minkum ummatun yad’uuna ilal khoiri waya’ muruuna bil ma’rufi way an hauna ‘anil munkar, wa ulaa ika humul muflihun” Subhanallah, Alhamdulillah, begitu nikmatnya, begitu indahnya mendengar lantunan kalam Illahi. Begitu nikmatnya, begitu indahnya melihat dan mempunyai mutiara-mutiara yang mulai bercahaya. “Fa allafa bayna quluubikum…”

Seperti air di kota hujan. Langit selalu menurunkan gerimisnya meski di musim kering. Dan cinta itu selalu ada. cinta pada sang pencipta, cinta pada keindahan, cinta pada manusia, dan cinta pada hujan, cinta pada pelangi…
Sore ini, usai kajian fiqih di salah satu rumah seorang teman. Kutatap air bah yang turun dari langit. Hujan, aku menyukainya, entahlah, hanya dengan menatapnya hati merasa sejuk dan teduh. Hujan, gerimis, dan pelangi adalah rangkaian kata yang menghadirkan suasana romantisme tersendiri.
Pelahan, hujan mulai berhenti, menyisakan kilauan indahnya pelangi, ciptaan sang Illahi, aku masih menikmatinya, ketika seseorang tiba-tiba sudah ada di sampingku.
“Indah sekali suasana sore ini, sangat romantis, seperti suamiku…” bibirnya tersenyum sambil matanya menerawang. “Kau suka?” tanyanya padaku tiba-tiba.
Aku mengangguk sambil tersenyum, kutatap perempuan di sampingku. Ummu Azzam, seorang ustadzah muda, bersahabat dengannya selama belasan tahun, berjuang bersama, berdakwah bersama membuat kami sudah seperti saudara kandung.

“Ukh… aku ingin kau menikah dengan suamiku?” katanya tiba-tiba, membuatku terlonjak, tak percaya. Ah, kali ini dia serius, aku tahu bagaimana saat dia bercanda ataupun harus berkata serius. Aku terdiam. “Kita bisa berjuang dan berdakwah bersama, mengarungi rumah tangga bersama. Aku ingin kau pun memiliki kebahagiaan seperti yang aku rasakan. Aku ingin kau menjadi madu di dalam rumahku. Aku serius, hal ini sudah aku bicarakan dengan suamiku, kutunggu jawabanmu dalam tiga hari ini, sholat istikhorohlah.” Dan aku masih tetap terdiam, ketika ia melambaikan tangannya. Suaminya telah menjemput. Kupandangi mereka berdua yang mulai menjauh, meninggalkan kepulan asap mobil.

Di rumah, selama tiga malam susah sekali untuk memejamkan mata, permintaan Ummu Azzam telah menggelitik dan menarik seluruh perhatianku, sudah tiga malam kucari jawaban dengan sholat, berulang-ulang kuselami makna ayat Qur’an surat An-Nisa. “Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikina itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim” aku mengenal suaminya dengan baik, dialah seorang aktivis, seoarang mujahid, seoarang pejuang Allah. Aku juga percaya dia akan bisa berbuat adil, karena dia seorang yang qowiy. Tapi…selama ini aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang madu, menjadi orang kedua dalam sebuah rumah tangga. Ta adud? Poligami? Bahkan kata-kata itu tak pernah terlintas dalam benakku.
Dan bagaimana dengan keluargaku sendiri, aku menimbang-nimbang, selama ini mereka menurut dan mengikuti apa yang aku perintahkan, selama itu baik.

Sepertinya aku sudah punya jawaban yang akan aku berikan besok. Bismillah. Bantu hamba ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi ini, berilah petunjukMu. Doaku di penghujung malam terakhir, di hari ketiga.

Perasaanku tak menentu, aku takut apa yang menjadi jawabanku nanti akan ada yang merasa tersakiti, tapi aku pasrah ya Rabb, Bantu hamba. Bismillah
“Aku sudah berdoa, memohon petunjuk dari Allah, begitupun sudah kupikirkan baik-baik dengan jawabanku nanti, semoga tidak ada yang merasa tersakiti…” Aku terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian. Di depanku perempuan berjilbab lebar dan suaminya menunggu tak sabar.
“Insya Allah aku bersedia untuk menerimanya… karena Allah” huffh, lega rasanya setelah mengucapkan kalimat itu. air mataku menetes ketika perempuan itu memelukku hangat, sementara suaminya tersenyum. Inikah awal dari kebahagiaan itu?
Senandung Robithoh mewarnai pertemuan itu,

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cinta-Mu
Bertemu dalam ketaatan bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan
Kuatkan ikatannya kekalkan cintanya
Tunjukkilah jalan-jalanNya, terangilah dengan cahaya-Mu
Yang tiada pernah padam, ya Robbi bimbinglah kami
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman
Dan indahnya tawakal pada-Mu
Hidupkan dengan ma’rifat-Mu
Matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Tiba-tiba aku ingat selembar kertas berisi sebait puisi yang akan kupersembahkan nanti untuk suamiku…

Apakah ini
Antara jurang yang dalam
Jauh ke perut bumi
Dan, kawanan singa yang lapar
Atau
Batu permata bercahaya surga
Dan, mutiara diri dalam jiwa bumi yang indah

Akh…, aku hanya ingin mencintaimu
Dengan cinta yang sederhana
Yang selalu diterangi cahaya-Nya
Akh…, aku hanya ingin kita merajut
Kisah ini dengan benang putih nun tulus
Walau perihnya jarum kan selalu kita rasakan

(terinspirasi dari kisah seoarang teman)
belum baca bagian pertamanya lihat di part 1


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: