Posted by: biru langit | 10/05/2009

hanya sebuah cerpen by dari azzura

Tuhan dulu pernah

Aku menagih simpati

Kepada manusia

Yang alpa jua buta

Lalu terheretlah

Aku di lorong gelisah

Luka hati yang berdarah

Kini jadi kian parah

…..

Lantunan nasyid Mengemis Kasih The Zikr kembali mengusik kegalauanku dan melemahkan seluruh urat nadiku.

Sepuluh tahun yang lalu saat kunikmati pagi sambil berpuisi.

”Ri, maukah kau menikah denganku?”. Jo, seorang teman yang telah aku jadikan sebagai sahabat tiba-tiba merusak hariku. Aku pikir dia hanya sekedar main-main.

”Mau kau jadikan istri yang ke berapa?”, candaku sambil mengingat sejumlah nama perempuan yang selalu menghiasi hidupnya.

”Aku serius, aku ingin berubah menjadi orang yang baik, yang alim. Aku berharap kau mau membimbingku nanti.” Dan aku melihat keseriusan di wajahnya. Sekilas kuperhatikan penampilannya yang mirip preman. Jaket lusuh, celana jeans yang sengaja dilubangi, rambut gondrong, sedikit tatto di lengannya dan di sela jarinya terselip sebatang nikotin yang masih utuh. Dia tidak akan berani menghisapnya di depanku. Kuhela nafasku, sejenak kukumpulkan keberanianku untuk mengatakannya. Pelan, kuberusaha untuk tidak menyakitinya.

”Aku menginginkan seseorang yang dapat membimbingku dan bisa kujadikan qowam untukku. Bukan sebaliknya. Lagipula aku masih muda. Belum pernah terbersit olehku untuk segera menikah. Jadi maaf.”

Kulihat bias kekecewaan di matanya. Maafkan aku, sebenarnya aku punya cinta tapi bukan untuknya. Melainkan untuk sahabatnya yang juga sahabatku. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan kakak karena usianya yang lebih tua di atasku.

Kakak, yang selau setia mengirimkan puisi-puisi penggerak jiwa dan membangkitkan semangatku. Aku punya cinta untuknya meski dengan mudah cinta itu hilang saat dia pergi menemukan labuhan hatinya. Dan itu bukan aku.

Tiga tahun kemudian di suatu senja. Seseorang yang aku harapkan dapat membawaku ke surga kelak. Dia datang dengan segenggam janji.

”Aku ingin menikah denganmu. Tapi aku harus menunggu kakak perempuanku. Mungkin dua tahun lagi. Maukah kau menunggu?”

Kutatap matanya yang bertabur asa. Aku merasa kecewa, direndahkan dan harga diriku terkoyak, bukan karena permintaannya. Tapi karena aku merasa berbeda. Setelah sekian lama ku memasuki dunia tarbiyah, aku mengalami banyak perubahan. Aku tidak tahu dengan takdir Allah nanti. Dan aku tidak ingin membayangkan apa yang terjadi selama dua tahun. Hubungan tanpa status? Tiba-tiba dadaku terasa perih. Kutahan segenap perasaanku.

”Aku tidak akan pernah menunggumu selama itu. Kalau memang Allah berkehendak, suatu saat kita akan dipertemukan oleh-Nya. Dan jika engkau menemukan orang yang pantas untuk mendampingimu, aku tak akan menghalangimu.” tegasku. Kurasakan wajahku yang memanas. Cinta yang selama ini aku punya lenyap seketika. Dan anginpun membawanya pergi hingga tak pernah kutahu keberadaannya lagi.

Tiga tahun berselang. Cinta itu datang dengan tiba-tiba. Tanpa kutahu dari mana awalnya. Bukan karena wajahnya yang mirip Leonardo De Caprio. Tapi lebih pada soal pandangan hidup, latar belakang, hobi, dan impian yang sama, yang menyebabkan aku merasa nyaman ada di dekatnya. Aku tahu ini salah. Tapi aku tak bisa menghilangkan kecenderunganku untuk, paling tidak bersimpati kepada lawan jenis.

”Janganlah kau menanam benih di ladang yang terlarang. Karena suatu saat kau akan mendapat murka-Nya. Apakah kau mau dikalahkan oleh nafsumu? Apakah kau mau terperosok dalam jurang kemaksiatan? Bukankah persahabatan akan lebih bermakna daripada jalinan kasih yang tidak diridhoi?”. Ucapnya ketika terakhir kali bertemu.

Usianya lebih muda dariku, tapi rangkaian kalimatnya mampu membuat wajahku memerah menahan malu. Seolah dia mempunyai telepati yang tinggi hingga mampu membaca pikiran dan perasaanku. Padahal aku hanya sekedar punya sepotong cinta yang akan kupersembahkan untuknya nanti. Dan kini aku tak kuasa untuk mendengar kalimat-kalimat berikutnya yang seolah ingin menelanjangiku. Esoknya, dia pergi tanpa meninggalkan bekas, setelah selama enam bulan persahabatan. Ada rasa kehilangan yang memunculkan perasaan halusinasi, seolah dia selalu ada di dekatku. Hingga aku tersadar bahwa rasa yang kupunya telah hancur berserak bersama pecahan cermin.
(bersambung) untuk lihat sambungan klik di part 2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: