Posted by: biru langit | 10/05/2009

cerita sahabat 2 (Balas dendam kanday)

NAMANYA Taufik Saptoto Rohadi. Saat mahasiswa tidak pernah mau dipanggil Taufik, apalagi oleh pemilik lidah Sunda. Dia kerap murka jika ada teman-temannya, terutama orang Sunda, memanggilnya ‘Taupik’. Saya dulu kerap kena dampratnya karena selalu salah melapalkan namanya: Taufik menjadi Taupik. (Kata siapa orang Sunda tidak bisa menyebut huruf F?! Pitnah tahu… hehe).

Gara-gara banyak yang salah mengucapkan namanya, dia gelisah. Melapalkan namanya dengan benar bagi dia absolut. Sayangnya, meski ribuan kali dia mengkampanyekan nama Taufik dengan penegasan huruf F, selalu saja ada orang yang salah melafalkannya.

Dia pun jengah, bahkan trauma jika berkenalan dengan orang Sunda. Terkadang ucapan SARA tentang buruknya komunikasi orang Sunda selalu meluncur dari bibirnya.

(Kualatlah dia. Akhirnya dia berpacaran dengan gadis Sunda, mencari berlian di ‘kerajaan’ Sunda, menikahi wanita Sunda, bermukim di Tatar Sunda, dan mengagumi alam Sunda. Mau tidak mau juga dia harus bisa berbahasa Sunda. Cucian… deh elo. Hehehe…)

Sibuklah dia mencari-cari nama beken biar keren. Bagi dia yang penting orang lain tidak salah melafalkan namanya. Hingga akhirnya dia mengkampanyekan nama baru: OBET…. Dia percaya nama itu keren dan mudah disebut. Dengan nama baru, dia berkeliling kampus memperkenalkan diri. Ada yang bengong, ada yang nyengir, ada yang masak bodoh. Namun yang pasti satu kelas menertawakan nama barunya. Semuanya terbahak-bahak: Hahaha…. Entah dari tempat sampah mana dia memungut nama itu.

Tapi, sahabatku ini memang super percaya diri. Masak bodoh orang mau mencibir apa. Terserah orang mau menyebutnya waras atau tidak. Lagian…. kenapa juga dia tidak pernah bangga dengan nama yang sudah dibubur merah dan putih itu. Yang penting jangan sampai nama Taupik eh… Taufik dari bibir teman-teman sekampus memuncrat ke telinganya. Hingga akhirnya nama Obet pun renyah di kampus. Hampir seisi kampus mengenalnya.

Saya yang tadinya tak suka nama itu harus menuruti keangkuhannya. Ternyata nama itu cocok untuk dia, mirip dengan berbagai referensi fiksi yang saya baca dengan mengambil nama tokoh Obet: Hansip Obet. Obet sang Sopir. Santri Obet. Semuanya berkarakter polos, sok serius, selalu hidup sederhana, bangga pada diri sendiri, tak pernah mengeluh, mampu memotivasi, tidak silau dengan kekayaan, bisa beradaptasi dengan kondisi apa pun, dan selalu menghargai orang lain.

Saya paling suka makan di rumahnya. Masakan ibunya itu yang enak (pastinya enak karena gratis). Tapi tetap tidak lengkap karena orang-orang di rumahnya tak pernah mau menyediakan petai untukku. Hahaha….

Obet punya bibir lumayan tipis. Kalau merokok, monyongnya sampai keluar. Huuuh…. Tapi gara-gara gaya merokoknya itu saya terkontaminasi. Candu saya akan rokok berlanjut hingga sekarang. Sementara dia sudah lama mematahkan batang rokok.

Saya dan dia memang lama bergumul dengan romantika masa muda. Saat mahasiswa kami sering berbagi cerita, menabur suka, mengurai kepedihan, dan berbagi keluarga. Semuanya berjalan alami tanpa harus ini dan itu, begini dan begitu. Hingga kini,

Obet pun selalu mengulurkan tangan kepada sahabat-sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, “Tuh, apa kubilang! Makanya…”

Obet gemar sekali mendengarkan musik, menonton film, dan bernyanyi. Dia nyaris hapal semua lagu yang ‘in’ saat masih mahasiswa. Sementara saya tidak. Dia selalu menonton semua film terbaru. Sementara saya lebih suka lesehan di depan panggung teater. Dia paling suka membaca fiksi. Sementara saya lebih suka menikmati buku kumpulan puisi. Sayang, dia selalu gaptek.

Saat teman-temannya sudah lelah dalam euforia internet dan chating, dia baru memulainya. Saat teman-temannya sudah punya sepuluh email, cara membuat email pun dia tak bisa. Saat teman-teman di kelasnya mahir menggunakan kamera SLR, cara memegangnya pun dia gelagapan.

Termasuk ketika teman-temanya sudah punya pacar, dia sibuk berburu gadis kampus. Saya suka tertawa ngakak kalau ingat cara dia memburu wanita yang kini menjadi istrinya. Maunya romantis, kisahnya malah meringis. Maunya asyik, malah jadi berisik.

Anehnya dia justru jago menjodohkan teman-temannya, termasuk menjadi mak coblang untuk saya. Terbukti, dia begitu setia menjadi kurir surat cintaku untuk gadis yuniornya di SMA. Dan dia juga berperan besar dalam kisah cintaku dengan teman wanitanya yang kini menjadi istriku.

Tapi hasil perburuan cintanya untuk wanitanya kini tak sia-sia. Kini dia telah menjadi suami paling baik yang tidak pernah membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

Selama bersetubuh dengannya sejak mahasiswa hingga sama-sama bercengkrama dalam satu profesi, Obet saya kenal sangat penakut. Dia paling tidak berani berhadapan dengan segala bentuk gaya preman. Saat sekelompok anak SMA menyanderanya, mukanya begitu sangat pucat pasi. Wajahnya polos seperti jongos saat teriakan ‘bantai… hajar….sikat’ dari sekelompok anak SMA

Bogor mengganggu telinganya. Begitu juga saat petasan besar (mungkin juga bom) meledak dahsyat 10 meter dari tempat duduk kami di Bunderan HI pada pemilihan Gus Dur menjadi presiden. Dia lari terbirit-birit tak jelas. Mulutnya juga komat-kamit tak jelas dengan ekspresi tak menetas.

Sudah lama kami berpisah. Lebih dari 5 tahun. Hampir 11 tahun kami terus bersetubuh. Perpisahan sesungguhnya terjadi saat sama-sama tugas di Bandung. Dia lebih menikmati rangkaian kalimat untuk fiksi ketimbang mengurai fakta jurnalistik untuk tempatnya bekerja. Sementara saya memeilih totalitas untuk kegiatan jurnalistik. Ketukan keyboardnya selalu mengganggu tidur pagiku. Selepas deadline, dia terlalu masyuk di depan monitor menonton DVD berbagai film. Dia paling suka film drama.

Saat menjadi wartawan, idelisme Obet begitu kuat. Dia salah satu wartawan yang anti-amplop. Dia benar-benar tak suka uang terkait kegiatan jurnalistik. Suatu saat dia pernah menerima amplop saat melakukan peliputan ruislag kantor kecamatan di Bogor bersama wartawati yang kini jadi istriku. Usai liputan dia terpaksa menerima amplop berisi uang di atas Rp 100 ribu karena sang narasumber terus memaksanya, bahkan sampai dikejar-kejar agar Obet mau menerimanya. Dia begitu merasa berdosa sampai terus menerus memohon ampun pada Allah SWT hingga akhirnya uang amplop itu masuk ke keropak masjid. Bagi kami tugas jurnalistik adalah suci, lebih dari sekedar mencari fakta itu sendiri.

Saat saya harus meninggalkan Bandung dan kembali bertugas di Bogor, Obet telah berganti nama. Namanya kini Tasaro, sudah pasti untuk memperpendek namanya dari Taufik Saptoto Rohadi. Tapi yang jelas, dari dulu dia selalu ingin punya nama keren.

Huh… tetap saja dia tak pernah bangga dengan nama aslinya. Dengan nama itu, berbagai novel manis lahir dari buah karyanya. Saya benar-benar iri. Lebih dari 10 judul fiksi lahir dari kecerdasannya mengolah cerita. Saat menjadi wartawan, dia selalu terpilih untuk tugas peliputan feature. Tulisannya selalu humanis, human interst, dan selalu memberikan nilai berharga bagi pembacanya. Padahal, saat kuliah dulu, saya selalu mengalahkannya dalam tugas penulisan feature, apalagi penulisan puisi. Dulu dia buruk sekali cara menulis puisi sampai-sampai profesor muda yang dosen kami dan juga penyair memberikannya nilai rendah untuk tugas penulisan puisi.

Meski kami sudah berpisah, anehnya kami selalu punya tujuan dan cita-cita yang sama. Termasuk ingin punya anak berapa dan bagaimana nanti kita setelah berusia 35 tahun. Semuanya mengalir begitu saja, tanpa komitmen. Kami memang tak pernah serius dalam persahabatan.

****
Saya benar-benar kangen bersentuhan lagi dengan dia. Saya rindu untuk meledeknya seperti saya melecehkannya ketika dia melahirkan novel pertamanya.

Hanya dia yang selalu membantu saya ketika saya berada dalam posisi sulit. Dia orang pertama dan satu-satunya teman yang mau mengurus saya ketika saya sakit keras di kos-kosannya yang tidak ada isi apa-apa. Dia juga teman satu-satunya yang meminjamkan uang untuk biaya pernikahan saya tanpa meminta kapan waktu pengembaliannya. Dia satu-satunya teman yang tak pernah absen mengucapkan selamat ulang tahun pada saya.

Tasaro kini lebih baik dari saya. Shalatnya lebih rajin. Cara berpakaiannya lebih necis. Cara berbicarnya pun semakin terhormat. Saya kini lebih banyak menyanjung, meski dalam hati. Sebab kalau blak-blakan menyanjung dia, kepalanya akan membesar.

Dia telah memberikan banyak pelajaran kesetiaan, komitmen, dan dedikasi. Dia tetap bersahaja dibanding saya yang selalu ingin menikmati keindahan dunia karena mungkin saya terlalu lama terjebak dalam kemiskinan. Saya benar-benar iri dengan cara dia hidup dan bagaimana dia memandang kehidupan.

Huh… tulisan ini juga hanya sebagai pembalasan untuknya karena dia juga membongkar sejarah hidup saya. Kebetulan saya tak punya waktu banyak untuk menulis panjang tentang dia yang pada 1 September ini berusia 29 tahun. Saya sudah terjebak dalam kubangan bisnis media massa dibanding dia yang selalu asyik dalam proses kreatifnya.

Obet… eh Tasaro seorang pekerja yang selalu menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugasnya amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan. Tasaro selalu membulatkan tekad dan hatinya untuk mencapai tujuan, meski dia belum dapat mengetahui hadil akhir dari tujuannya. Dia selalu berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, meski semua orang meninggalkannya.

Tasaro selalu rela meninggalkan semua yang berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, meski medan yang ditempuh berat. Dia juga selalu mamu memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Tasaro adalah pria berani setia dan percaya, walau harapannya tidak terwujud dan belum ada jaminan.

Pada usianya yang ke-29, dia akan mendapatkan seorang anak. Saya yakin anaknya akan seperti bapaknya yang berbudi luhur dan selalu hormat pada semua manusia tanpa mempersoalkan latar belakang dan kehidupan buruk seseorang.

Selamat ulang tahun, Bro… Kamulah justru yang terbaik. Tapi ingat… saya pasti akan lebih baik dari kamu. Hehehe…! (*)
taken from tasaro notes


Responses

  1. senang sekali punya sahabat seperti anda.
    kapan yaa saya dituturkan seperti ini…
    ahh… toh Tasaro emang orang keren ya
    suka novelnya…

  2. ka’caRlY ,,,kpn2 k” k0nseR d’kalimantan d0nk’S ,,qW udh lma,,,bnGetZ ingN kTmw m’ k”,,,,!!!,,,,,,,

  3. hay kakak saya ngevens banget sama kakak kavan2 konser k,kalsel ya kak,buat kakak tenks.

  4. sahabat arti segalanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: