Posted by: biru langit | 10/05/2009

cerita sahabat 1 (Kanday)

Dia menulis sebuah puisi berjudul: “Buat Ummi”.
Taruhan … dia pasti tidak pernah tahu bahwa saya mengingat puisi itu sejak kali pertama membaca sampai hari ini, ketika waktu 11 tahun telah terlewati. Saya mengagumi kemampuannya berpuisi tanpa pernah mengatakannya. Saya lebih suka misuh-misuh daripada memuji-mujinya. Tidak ada seorang kawan pun yang memiliki banyak kemiripan sebanyak dia memiliki kehampirsamaan dengan saya.

Lahir di bawah bintang yang sama, mengambil kuliah pada jurusan sama, bergabung dalam komunitas sama, bekerja di tempat yang sama, terlunta-lunta di usia muda yang sama, kawin pada tahun yang sama, gondrong dan cepak pada saat bersamaan, bahkan memilih capres yang sama setelah sama-sama menjadi golput seumur hidup! Sama-sama kalah pula! Tidak satu pun dari setiap kesamaan itu kami rencanakan.
Kami akhirnya memiliki perbedaan ketika saya memutuskan kami harus berbeda. Dan hari ini, kami benar-benar berbeda!
Tapi tidak ada satu nama pun yang akan lebih saya beri apresiasi dan ucapan terima kasih yang setulusnya melebihi rasa berhutang saya kepada dia. Seorang sahabat yang dengannya saya tidak pernah menangis atau beromantis-romantis. Bulan ini tampaknya istimewa buatnya. Istrinya, anaknya, dan dia berulang tahun pada waktu hampir bersamaan. Saya ingin menuliskan sesuatu agar dia tahu, saya tidak pernah melupakan betapa raksasa peran dia dalam hidup saya.
Namanya; Faturrahman Syafruddin Kanday. Sementara orang-orang memanggilnya Fatur, saya lebih suka memanggilnya Kanday. Saya bertemu dia kali pertama saat apel hari pertama Jurusan Komunikasi di kampus kami. Duduk bersisihan. Demi Tuhan tidak menyangka saya, selama belasan tahun kemudian hidup kami masih tetap bersisihan.
Bahasa tubuhnya kaku, selera humornya buruk, basa-basinya tidak luwes, dan dia terlalu jangkung. Saya tidak suka berjalan dengan seseorang yang tingginya terlalu melampaui kepala saya. Tapi, Kanday mulai jadi pengecualian. Selama OSPEK, saya menginap di kost dia, karena rumah kontrakan ibu saya jauh dari kampus. Cukup jauh untuk datang ke kampus pukul lima pagi. Panitia OSPEK selalu bangga dengan hal-hal aneh. Termasuk membuat aturan yang menyebalkan itu (setahun kemudian saya menjadi panitia dan melakukan hal sama. Wakakakakaak)
Kami berkenalan, berinteraksi, saling mengecek hal-hal apa yang bisa saling kami pahami mana yang tidak. Pastinya saya paling tidak bisa berkompromi dengan hobinya menyantap petai. Isunya karena hal itu dia diusir oleh ibu kost (gosiiiiiiiip). Sampai detik ini dia mengaku saya yang mengenalkannya dengan rokok, dan kemudian dia yang jauh lebih fasih merokok. Tahan lama pula. Saya berhenti merokok tahun 2005 sedangkan dia masih berlanjut hingga hari ini. Waktu itu Shiela on 7 sedang naik daun. Dia termasuk yang rela berjubelan menonton Duta dan kawan-kawan. Petai, rokok, dan Shiela on 7. Kombinasi yang tak terpatahkan.

Kami menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Ke mana-mana bersama. Tentu karena kepentingan kuliah yang sama dan banyak hal di antara kami yang bisa dikompromikan; kecuali film, musik, dan olahraga. Saya tak jago main bola, dia pun sama. Tapi saya tak pernah melampaui prestasi tertinggi Kanday dalam mengulik si kulit bundar: membuat gol ke gawang sendiri! (serius ini terjadi waktu pertandingan eksebisi antar-wartawan di Bogor…ha…ha…ha..)

Kisah cinta dia saya hapal, kapan dia kehabisan uang saya tahu, kapan kami sama-sama malas juga saling mengerti. Tetap saja soal tidur dia jauh lebih jago dibanding saya. Tidak tidur satu minggu dan lelap mimpi seminggu kemudian (satu ini terlalu didramatisasi). Kalau saja waktu itu Mbah Surip sudah terkenal, tentu lagu Bangun Tidur jadi lagu kebangsaan kawan saya satu ini.

Saya sedang membicarakan seorang kawan yang paling berperan dan transformasi diri saya, hingga hari ini.
Dia tidak pernah mengajari saya dengan kata-kata. Dan kami memang tidak pernah saling menggurui. Semasa kuliah, saya dan Kanday terlalu identik untuk terpisahkan. Selain itu, dia selalu menjadi atasan saya. Termasuk ketika kami mendirikan tabloid kampus dan dia menjadi pemimpin redaksinya. Caranya menjadi pemimpin mengajari saya tentang totalitas: dia mengetik berita sendiri, melay out, sampai menunggui proses cetaknya. Saya? Menulis satu artikel tentang Aceh, setelah itu kongkow-kongkow. Sesuatu yang meletuskan pertengkaran antara saya dan dia, pertama kali seumur hidup.

Kenyataannya kami hanya bertengkar dua kali. Selain di redaksi tabloid kampus itu, satu lagi, ketika kami sama-sama dipercaya owner Jawa Pos untuk mendirikan Harian Pagi Radar Bandung. Anak-anak muda yang dijebak dalam bisnis sungguhan. Kami bertengkar sama hebatnya pada dua momentum itu.

Banyak kejadian monumental—bagi saya— terjadi pada masa perkawanan kami dulu. Salah satunya ketika kami berhasil menggolkan proposal ke pihak kampus untuk melakukan peliputan perhitungan suara di gedung MPR usai turunnya Soeharto. Ketika itu Gus Dur jadi presiden, dan kami terjebak dalam lautan massa di Jalan Soedirman.
Bom—atau mercon besar—meledak di mana-mana, mobil terbakar, massa mengamuk. Saya ingat betul detik-detik itu. Saya, Kanday, Educate, dan Ade Khusnul Mawadah, berempat ngos-ngosan lari dari kerumunan massa. Educate memeriksa detail mobilnya, khawatir ditempeli bom. Ade Khusnul mulai mengeluarkan semua doa yang dia bisa, saya langsung shalat tanpa jelas di mana kiblat, dan tentu saja tanpa wudhu. Shalat apa juga ndak jelas.

Kanday? Dia wartawan sejati sejak dahulu kala. Kawan saya yang kurus kering itu menembus asap hitam Semanggi, memotret semua kericuhan dengan euphoria jurnalis muda. Pada edisi Gatra yang kami beli di Jogja setelah Gus Dur terpilih jadi presiden, gambar Kanday dipampang besar di halaman berwarna. Rambut kucir panjang, baju kotak-kotak, jeans belel, dan kamera di tangan. Semua pembaca majalah itu tentu menyangkanya wartawan professional yang tengah meliput kejadian yang jadi isu internasional itu.
Saya tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa saya sungguh bangga melihat dia selalu menjadi bintang. Kami memang tidak pernah punya kata-kaya manis. Meski kami saling tahu, ya, kami saling peduli.

Ketika akhirnya dia berangkat ke Bogor untuk praktik kerja lapangan, saya mulai merasa kehilangan. Adanya dia terasa biasa saja, namun begitu tiada, ada sesuatu yang tidak terkumpul sepenuhnya. Paling tidak itu yang terasa di benak saya. Sekitar tiga bulan dia kerja praktik di Harian Pagi Radar Bogor. Setiap bulan sekali dia datang dengan membawa sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar kami yang mahasiswa: uang sendiri, dari kerja cerdas sendiri, dan dibelanjakan dengan otoritas sendiri.

Menarik sekali. Dalam masa praktik kerja, Kanday sudah mulai digaji. Saya tahu dia berbakat. Tapi langsung digaji!!! Luar biasa. Pada akhirnya dia merekomendasikan saya kepada bos Radar Bogor untuk kerja praktik juga. Dan seperti skenario yang mudah ketebak, saya akhirnya bergabung dengan harian Radar pertama di Indonesia itu.
Masa-masa awal jadi wartawan, minta ampun. Saya baru keluar kampus, langsung dihadang berbagai persoalan lapangan. Termasuk pernah disandera oleh anak-anak SMK yang tawuran, liputan korban mutilasi, liputan polisi yang dibakar, dan segala yang mengerikan. Kanday selalu ada. Dan harus saya akui, adanya dia memberi saya ketenangan. Seolah segala persoalan pasti ada jawaban. Terutama soal uang! Wakakakaka…. Bertahun-tahun saya tidur beralas koran di mushala kantor. Dia pun sama. Sebelum subuh saya berkeliling bogor, mengantar koran kepada langganan, dia melakukan hal serupa. Tanggal 20 ke atas ngutang ke warung makan, karena uang kehabisan, dia tiada beda.

Sumpah, tidak akan cukup halaman ini bagi saya untuk menceritakan betapa Kanday mewarnai hidup saya. Sudah hampir 12 tahun persahabatan kami, dan beberapa hari lalu, saya buka facebook dia dan membaca puisi ini:
Anakku/ Hari ini kamu satu tahun/ Maafkan Ayah, isi lemarimu belum penuh baju/ Keranjang mainan isinya bekas kakakmu/ Tidak juga ada stiker superman atau diego di kamarmu/ Anakku/ Hari ini kamu tidak merayakan ulang tahun/ Maafkan Ayah, kadonya masih tertahan di bulan/ Anakku/ Kamu pria/ Teriaklah lantang, punya sengat kumbang, mata bintang, dan bentangan angan di semesta lenggang /Anakku/ Raihlah bulan.

Dia sekarang ayah dua anak. Berkarya di Bekasi, ketemu keluarga seminggu sekali. Masih seperti dulu. Kecuali selera humornya yang sudah sangat baik, pembawaannya yang jauh lebih dewasa, dan penguasaan jurnalistiknya yang kian matang. Saya yakin dia masih sangat menyukai petai.

Kemarin saya mengirimi dia sms “Selamat ultah, Ayah. Be a good father, always. I love u full”
Tahu apa jawabannya, “Terima kasih, Anakku. Semoga kebaikan dan kesuksesan selalu menyertaimu. Amin”
Hm….kurang ajar sekali!!!!
(untuk 29 tahun Kanday, sahabat terbaikku… dia yang membangun aku)

taken from tasaro notes


Responses

  1. sesuatu yang saya suka dari wartawan; ketika saya betah baca tulisannya karna lumayan indah🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: