Posted by: biru langit | 04/15/2009

KEKUATAN MEMORABILIA DAN KUTUKAN SUPERNOVA

membedah-pelangi

oleh Muhammad Yulius, Pemimpin Redaksi Annida

Tersimpan atau hilang. Inilah sesungguhnya pilihan yang menghantui setiap manusia ketika ia meninggalkan kehidupannya dalam pusaran detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Yang tersimpan akan menjadi memorabilia dan yang hilang tidak menjadi apa-apa.

Memorabilia adalah sebuah laci dari lemari kehidupan, tempat kita menyimpan sejumlah peristiwa—dengan ekstensi “pada suatu ketika”—yang kapan saja akan kita buka dan kenang-kenang kembali. Bagi kebanyakan kita, memorabilia jamaknya berbentuk momentum testimonial: reuni atau kongkow-kongkow. Bagi sebagian yang lain, memorabilia ditulis dalam lirik lagu seperti: “nostalgia SMA kita…” yang dinyanyikan oleh Paramitha Rusadhy. Ada juga yang mengkreasikannya dalam bentuk film atau buku, misalnya Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Dalam bentuk apapun, memorabilia selalu menyimpan kekuatan. Reuni, misalnya, mampu menyedot perhatian para alumnus sebuah sekolah untuk datang ke sebuah perhelatan kangen-kangenan. Sebuah foto tua membangkitkan energi-kenangan yang membuat si pemiliknya merasa kembali menjadi muda, seperti saat foto itu dibuat. Begitu juga dengan buku catatan harian yang merekam hari-hari yang pernah kita lalui saat segala sesuatunya masih terasa sejuk, hijau, ramah, dan murah—buku itu mampu memberi nuansa lain saat kita kembali membacanya, pada zaman yang berbeda; gersang, tandus, bengis, dan mahal.

Nah, itulah salah satu alasan mengapa ada banyak penulis yang terkenal karena ia menceritakan kembali episode saat ia berada persis di jantung peristiwa, menjadi bagian sejarah yang pernah ia saksikan. Para penulis seperti Ernest Hemingway (The Old Man and The Sea, The Snows of Kilimanjaro), Toni Morisson (The Bluest Eyes), atau Anton Chekov (The Cherry Orchard The Kiss And Other Stories) adalah orang-orang yang merasakan kekuatan memorabilia dan telah membuktikan pengaruhnya sebagai alat penyampai pesan.
Kekuatan memorabilia pula yang telah memungkinkan seorang “pemula sastra” seperti Andrea Hirata menjadi “mahabintang sastra” dalam hitungan kejap. Andrea, seperti diakuinya sendiri dalam buku Laskar Pelangi The Phenomenon (Asrori S. Karni, Hikmah, 2008), sebelumnya tak pernah berhubungan dengan dunia sastra dalam arti yang sebenarnya. Ia tak pernah membaca karya sastra, apalagi mencoba menulis cerpen, novelet, novel, atau genre karya sastra lainnya. Sebelum Laskar Pelangi terbit, Andrea hanyalah seorang pembaca yang rakus, tidak lebih.

Apa yang dilakukan Andrea hingga ia mampu melahirkan karya sastra yang disebut-sebut dengan berbagai pujian dan sanjungan yang belum pernah diberikan kepada sastrawan-sastrawan Indonesia terkemuka sekalipun? Andrea, seperti telah saya tuliskan di atas, “hanyalah” menghadirkan kenangan, sebuah memorabilia, sepotong memoar. Andrea, pada titik ini, benar-benar mereguk berkah kekuatan memorabilia yang tidak saja dahsyat bagi dirinya sendiri melainkan, terutama, bagi orang lain.

Namun, Andrea memang tidak mengail kenangan. Ia tidak berada di pinggir danau, melempar pancing, lalu menunggu ikan menyantap umpannya sambil selama berjam-jam berkarib dengan suntuk dan rasa bosan. Inilah kekuatan utama Andrea: ia terjun ke danau lalu menyelam jauh hingga ke dasarnya untuk menjemput kenangan masa lalunya. Andrea mereguk berbagai keindahan makhluk dalam air, mencatat detil-detilnya, dan “meminjam” kehidupannya untuk dibawanya ke daratan tempat ia hidup di masa kini. Andrea benar-benar tahu diri; bahwa sebagai pemancing pemula, ia tidak memiliki cukup nyali untuk bertarung melawan kebosanan—menunggui ikan menyambar kail pancingnya—dengan buta teknik menulis dan nol pengalaman bersastra.

Tentu saja, Andrea bukanlah satu-satunya penulis yang melakukan pekerjaan itu. Nama-nama besar yang pernah dicatat oleh sejarah sastra Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer atau Mohamad Diponegoro, telah lebih dulu melakukan hal yang sama. Namun, yang memberikan keuntungan kepada Andrea hingga kekuatan memorabilia yang dijemputnya melahirkan fenomena adalah kenangan tentang sekolah—sebuah sekolah yang tidak biasa, dengan guru dan murid-murid yang luar biasa. Sekolah dan para penghuninya yang diceritakan Andrea adalah sekolah dasar milik Muhammadiyah (satu dari dua organisasi besar Islam di Indonesia, selain NU) yang berada di pedalaman Belitong (daerah penghasil timah terbesar di Indonesia) dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Perihal sekolah yang mau roboh atau difungsikan sekaligus sebagai kandang kambing (bila malam hari), sebetulnya tidak terlalu istimewa, sebab ada begitu banyak sekolah di negeri ini yang kondisinya jauh lebih parah dan menyakitkan.

Yang istimewa dari Laskar Pelangi adalah bahwa SD yang mau roboh itu milik Muhammadiyah (nilai jual pada massa besar umat Islam) yang cara mengajar guru-gurunya sangat brilian dan inspriratif. Ini faktor yang pertama. Faktor kedua adalah kemiskinan murid-muridnya dengan kehidupan penuh ironi yang diwakili oleh kebaradaan PN Timah dan kehidupan anak-anaknya yang berlimpah (termasuk sekolah dasarnya) di satu sisi, dan potret nestapa anak-anak binaan Ibu Muslimah yang hidup dari keringat buruh kecil di perusahaan milik negara itu di sisi yang lain.

Padu-padan kedua faktor inilah yang menjadi satu-satunya kekuatan Laskar Pelangi. Coba bayangkan seandainya SD yang mau roboh itu milik organisasi non-Islam, lalu murid-muridnya yang miskin itu memang miskin, tidak berada dalam kehidupan kontradiktif dengan tetangganya yang kaya raya.

Maka, tidak mengherankan bahwa pembahasan dalam buku Laskar Pelangi The Phenomenon, selain menyinggung soal konsep pendidikan multiple intelligences dan faktor mitos kemelayuan orang-orang Belitong, sangat khas fenomena supernova yang jamak terjadi di kalangan pelaku budaya pop, khususnya kelompok musik. Dalam konteks ini, fenomena Andrea dan Laskar Pelangi sangat tipikal band-band debutan yang rising star; baru sekali muncul tapi langsung menyentakkan banyak orang dan mengguncang panggung-panggung konser di seluruh negeri. Kasetnya laku keras, dicetak ratusan ribu copy. Tentu saja, tidak ketinggalan ikon perayaan khas budaya pop ini: tanda tangan sang bintang—yang sesinya paling lama dibandingkan sesi acara intinya. Jangan tanya soal penghasilan, karena tipologinya sangat klop: bukan cuma royalti dari ratusan ribu keping kaset/cd-nya saja anak-anak band itu menjadi miliuner mendadak, tapi juga dari efek sampingnya yang otomatis: tarif panggilannya yang juga tak kalah gede.

Praktis, Andrea mendapatkan semua rezeki yang direguk oleh anak-anak band itu. Royalti bukunya mencapai miliaran rupiah, tanda tangannya diburu ribuan pembacanya, dan honor undangannya mengalahkan selebritis mana pun di negeri ini (50 juta rupiah bersih). Belum lagi serba-serbi kisah behind the scene yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh fenomena Laskar Pelangi dan sosok Andrea.

Maka, selayaknya pula Andrea mewaspadai kutukan supernova. Ini adalah fenomena yang lazim terjadi untuk sang rising star. Sebagaimana definisinya, supernova menunjukkan ledakan mahadahsyat dari sebuah galaksi yang justru sekaligus menandai akhir dari kehidupan gugusan bintang itu. Para pesohor yang pernah mengalami kutukan supernova seperti New Kids on The Block (NKOTB) atau Tomy Page di tahun 90-an, atau Sheila On Seven dan Radja di era 2000-an, memperlihatkan siklus yang mirip dengan Andrea dan Laskar Pelangi-nya: muncul, melesat, meledak, gegap gempita, lalu perlahan-lahan redup, sepi, lalu hilang sama sekali.

Supernova berpotensi besar terjadi pada NKOTB sebab band ini benar-benar khas pemandu sorak yang sekadar jual tampang dan suara. Mereka tidak memiliki bakat besar bermusik, sehingga konsep musik mereka tidak berkembang dan gampang mati. Mereka tidak seperti The Beatles yang karena jenius dalam bermusik mampu meramu konsep bermusiknya hingga menjadi legenda. Nah, jika Andrea yang tidak memiliki pengalaman bersastra dan menulis sastra sebelumnya dihadapkan pada situasi ini, mungkin ia akan terjebak pada jurus mengulang-ulang kesuksesan Laskar Pelangi dengan terus-menerus membuat sekuelnya. Andrea terpaksa menjawab pertanyaan ini jika ingin menulis kembali setelah jilid keempat novelnya: apa lagi yang menarik dari Laskar Pelangi sehingga pantas untuk disekuelkan? Atau, ia akan membuat novel yang sama sekali baru, yang murni hasil kreasi imajinasinya? Jika Andrea tak mendapat jawabannya, mungkin saja ia telah menjadi korban kutukan supernova. Wallahua’lam bisshawab.

Disampaikan di acara bedah buku Laskar Pelangi The Phenomenon, FLP Bogor, 12 April 2009


Responses

  1. […] sebagai pembicaranya. Ulasan bang Yus tentang laskar pelangi : the phenomenon biasa dibaca di kutukan supernova. Kutukan supernova yang dipaparkan bang Yus terkesan amat menakutkan bagi kita para penulis pemula. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: