Posted by: biru langit | 04/11/2009

7 Langkah Menulis Fiksi

*7 Langkah Menulis Fiksi*

*Oleh Nursalam AR*

* *

*Prolog*

*Good writing is purposeful; it says something and says it correctly.
Good writing has voice and energy.
Good writing is thoughtful and thought provoking.
Good writing communicates an important message clearly to intended audience.
Good writing expresses the writer self honestly and evokes a personal
response in the reader.*

*(Christopher C. Burnham) *

*Free writing* fiksi atau menulis bebas fiksi mensyaratkan pembebasan
kreativitas dengan menggali ke dalam diri kita sendiri (pengalaman, ide,
nostalgia dll) hingga menghasilkan *mission statement* di atas seperti yang
dituliskan C. Burnham. Intinya, dengan menjadi diri kita sendiri maka pintu
kreativitas akan terbuka lebar sehingga terbentuk energi alamiah kepenulisan
yang mengantarkan kita pada ciri-ciri tulisan yang baik. Hukum besi semesta
berkata bahwa sesuatu yang lahir dari hati akan sampai ke hati dan sebuah
ketulusan akan melumerkan kekerasan hati.

Di bawah ini langkah-langkah awal untuk menghasilkan sebuah tulisan fiksi
yang baik.

*Langkah 1. Menetapkan Niat: Mengapa Kita Menulis?*

“Lebih banyak pelaku bisnis yang gagal daripada seniman yang gagal.” (John
Gardner dalam On Becoming A Novelist)

Segala sesuatu diawali dengan niat. Apapun perbuatan kita tentu ada niat
atau motivasi yang melandasi. Termasuk ketika kita menulis. Inilah *software
*dalam diri kita yang harus ditata terlebih dahulu sebelum berkutat dengan
segala detil teknis penulisan seperti ide, plot atau *ending*. Untuk apakah
kita menulis? Uang? Ideologi? Terapi penyembuhan diri (*trauma* *healing*)?
Dalam konteks *trauma* *healing*, kita dapat merujuk pada Paulo Coelho yang
dalam novel *The Al Chemist* menyarankan agar kita menuliskan segala
kesedihan atau perasaan yang mengganggu dalam selembar kertas dan
melarungkannya ke sungai. Niscaya kesedihan atau kekuatiran akan sirna.

Habiburrahman Syaerozy, contohnya. Dengan sebuah niatan memperbaiki akhlak
bangsa melalui tulisan, aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Kairo ini
tergugah untuk menghasilkan karya sastra yang menghibur dan mencerahkan.
Alhasil, meluncurlah dari guratan tangannya *Ayat-Ayat Cinta*—novel yang
laris secara fenomenal dan diangkat ke layar lebar—maupun *Di Atas Sajadah
Cinta*, yang kemudian diangkat menjadi sebuah sinetron rating atas di sebuah
TV swasta. Termasuk beberapa buku bernada serupa. Yang paling anyar adalah
dwilogi *Ketika Cinta Bertasbih* yang diluncurkan pada Milad ke-10 FLP pada
2006 dan langsung dua kali cetak ulang dalam 1 bulan!

Lalu, salahkah jika kita ingin menulis semata-mata karena uang? Kawan-kawan
penulis—yang banyak saya temui–yang bermotivasi menulis semata-mata karena
materi pun umumnya banyak yang *mutung*, tidak lagi menulis setelah berbagai
penolakan. Jika tidak, mereka meracau merutuki nasib atau bahkan menyalahkan
orang lain terutama penerbit dan redaksi media. Mereka sibuk menuding
kesana-kemari kecuali kepada dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa–seperti
wejangan Eka Budianta, sang penyair seangkatan Rendra–menulis adalah
memberi.

Dalam logika bisnis yang terkadang turut mengikat aktivitas menulis,
menjual—termasuk ‘menjual’ tulisan–adalah melayani dan memberi. Keikhlasan
melayani atau memberi terhadap kebutuhan konsumen justru akan
menimbulkan *market
demand *dalam bentuk* repeat order *(order yang berulang). Kelimpahan materi
adalah efek sampingnya. Inilah sisi lain yang kerap diabaikan para penulis
yang bermotivasi menulis semata-mata karena materi.

Jadi, menulislah tanpa beban, ujar Kuntowijoyo—salah satu sastrawan favorit
saya—dan hanya ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu dengan menulis,
menulis dan menulis. Menulislah seikhlas meludah atau buang hajat. Seorang
Habiburrahman Syaerozy juga tak menyangka jika *Ayat-Ayat Cinta*—yang
royaltinya untuk *infaq* pesantren–akan laris manis hingga dicetak ulang
berkali-kali dalam waktu singkat. JK Rowling yang hanya seorang guru miskin
di Inggris pun tak pernah bermimpi jika *Harry Potter* akan mendunia padahal
semula ia hanya menuliskan khayalan masa kecilnya. Dalam bahasa (alm) KH
Abdullah Syafi’ie, seorang ulama kharismatik Betawi era 70an,”*Nanem padi
rumput ikut; nanem rumput padi luput*.” Tujuan yang lebih dari “sekadar”
materi akan menuntun kita pada tujuan sampingan seperti materi dan
popularitas.

Kutipan perkataan John Gardner di atas pun sebenarnya tak terhenti di situ
saja. Ada kalimat pamungkas yang menjadi kuncinya, yakni, “Walaupun
demikian, dalam sekolah bisnis, optimismelah yang selalu berjaya.” Ya,
optimismelah—selain motivasi–yang juga membedakan ketangguhan seseorang,
termasuk seorang penulis. Bukankah gagal itu biasa dan bangkit dari
kegagalan itu baru luar biasa?

*Langkah 2: Beternak Ide*

*“Uang hanyalah sebuah ide.” (Robert T. Kiyosaki)*

*Jika uang hanyalah sebuah ide maka memperbanyak ide sebanyak-banyaknya sama
saja dengan mengembangbiakkan uang yang akan didapat. Dalam konteks industri
kepenulisan –yang aroma bisnisnya tak beda jauh dari industri real estate
yang ditekuni Kiyosaki yang juga penulis buku *Rich Dad Poor Dad*-–ide harus
ditangkap bahkan harus diternakkan. Ibarat hewan ternak, ia harus dirawat,
dikembangbiakkan dan tak ayal dijual. Lihat saja fenomena novel *Ayat-Ayat
Cinta*-nya Habiburrahman El-Shirazy atau *Laskar Pelangi* karya Andrea
Hirata yang menuai royalti milyaran rupiah dan menjejak dunia layar lebar.
Inilah contoh nyata betapa ide bagi seorang penulis tak ubahnya hewan ternak
yang merupakan aset tak ternilai.*

* *

*Jika ide adalah hewan liar maka ia harus ditangkap, dijinakkan,
didomestikasi. Seperti halnya orang-orang dulu mendomestikasi kuda atau unta
untuk menjadi tunggangan yang bermanfaat untuk keperluan manusia. Sarana
penangkapnya bisa dengan banyak cara. Hemmingway menangkap ide dengan jalan
mengetik apa saja di mesin ketiknya jika mengalami kemampatan ide. Gola Gong
melakukan perjalanan keliling dunia untuk menjaring ide *Balada Si Roy* dan
*Perjalanan di Asia*. A.A Navis memilih nongkrong di toilet berjam-jam –
hingga konon ia terserang wasir—demi mengejar sang ide.*

* *

*Beberapa penulis lain ada yang menenggelamkan diri dalam tumpukan buku,
ngopi di kafe dengan laptop siaga di ujung jari atau sekedar bermain voli
untuk menjinakkan makhluk bernama ide ini. **Intinya: ide harus ditangkap.
Karena ide juga ibarat sambaran kilat. Jika tak cekatan disergap, ia akan
meluncur menghunjam bumi dan teredam, tak berdayaguna apa-apa. Maka
tangkaplah ide dengan keberanian Benjamin Franklin – sang penemu arde alias
penangkal petir –menangkap petir dengan layang-layang yang digantungi kunci
besi pada benangnya di tengah hujan deras yang ramai kilat. Sebuah
keberanian bernyali dengan keingintahuan yang besar dan semangat mencoba
sesuatu yang baru.*

* *

*Jurus Pertama: Kandangkan*

*Kandangkan ide dalam laptop, komputer, USB, disket, mesin ketik, notes,
agenda atau diary atau apapun fasilitas penyimpan data yang kita miliki.
Meskipun hanya berupa satu kalimat yang diperoleh dalam lintasan di benak
saat menunggu kereta api yang telat, misalnya,”Kereta yang ingkar janji”.
Jangan remehkan kuantitasnya karena itu adalah embrio yang terlalu mahal
untuk diaborsi.Siapa mengira jika coretan ide JK Rowling di atas tisu bekas
akan menjelma menjadi bayi raksasa bernama *Harry Potter* yang
bertahun-tahun menghipnotis dunia?*

* *

*Jurus Kedua: Beri makan*

*Jika bakpao adalah makanan untuk badan, buku dan kontemplasi (zikir,
tadabbur, meditasi, yoga dll) adalah makanan untuk otak dan jiwa. **Inilah
asupan terbaik untuk hewan ternak bernama ide. Semakin variatif dan bergizi
jenis asupan semakin bongsor dan berbobot ide tersebut.*

*“Every man’s work, whether it be literature or music or pictures or
architecture or anything else, is always a portrait of himself.”(*Samuel
Butler).Dalam konteks tersebut sebuah pepatah berbahasa Inggris cukup
relevan jadi panduan. *“Ordinary people talk about people; mediocre people
talk about events and extraordinary people talk about ideas.”* Orang-orang
kelas bawah membicarakan orang, orang –orang kelas pertengahan membicarakan
peristiwa sementara orang-orang yang berkaliber luarbiasa membicarakan ide
atau gagasan. Jika dunia seorang penulis hanya melulu sarat dengan bacaan
ringan, gosip selebritas dan hal-hal remeh temeh maka output dan kualitas
tulisannya tak jauh dari apa yang dimamahnya tersebut.Ia hanya menjadi
penulis berkategori kelas bawah bukan yang sedang-sedang saja apalagi luar
biasa. Seperti kata orang bijak, jangan penuhi pikiranmu dengan hal-hal
kecil karena akan terlalu sedikit ruang untuk pikiran-pikiran besar.

* *

*Jurus Ketiga: Kembangbiakkan*

*Kawinkan ide baik dengan inseminasi atau kawin silang. Sapi Madura petarung
karapan yang tangguh adalah hasil percampuran benih sapi pilihan. Ide
unggulan juga begitu, ia mewarisi kualitas genetis masukan yang
membentuknya. Dalam *How To Be A Smart Writer*,** Afifah Afra – penulis top
FLP dengan sederet novel *best seller* salah satunya novel sejarah *Javasche
Orange* dan *De Windst* – mengenalkan dua cara mengembangbiakkan ide yakni –
yang saya istilahkan inseminasi dan kawin silang. Inseminasi adalah
memasukkan elemen baru terhadap sebuah ide atau kisah lama. Misalnya, jika
dalam dongeng Malin Kundang yang menjadi batu adalah Malin Kundang, mungkin
sangat menarik jika yang menjadi batu adalah ibunya karena dinilai lalai dan
bertanggung jawab terhadap perubahan akhlak si Malin.*

* *

*Sementara kawin silang adalah memadukan dua unsur cerita yang berbeda.
Ambil contoh kisah Cinderella dan Putri Salju (*Snow White*). Cinderella
yang berbahagia karena sepatunya pas dengan ukuran sepatu kaca bisa saja
kemudian tewas memakan apel beracun. Kemudian ia hidup kembali setelah
dicium sang pangeran. Atau jika ingin lebih komedik, Cinderella hidup
kembali setelah mencium bau sepatu kaca yang disodorkan tujuh kurcaci.*

* *

*Jurus Keempat: Jual*

*Juallah ide dalam bentuk menuliskannya. “Ikatlah ilmu dengan
menuliskannya,” demikian pesan Ali bin Abi Thalib, yang kerap diusung tokoh
motivator menulis Hernowo dalam berbagai bukunya. Jika tidak mampu
menuliskannya, ide tersebut dapat dijual ke seorang teman yang
menuliskannya. Soal hitung-hitungan finansial itu bisa jadi kesepakatan.
Dalam dunia sinetron sudah lazim seorang penulis menjual ide dan soal
eksekusi penggarapan diserahkan kepada tim penulis skenario. **Si penulis
sendiri mungkin hanya sekedar mensupervisi atau menjadi *head writer*. Itu
sekedar contoh. **Namun kita tentu layak dan amat berhak menerima kehormatan
untuk menuliskannya sendiri. Tentu jika kita berani memanen setelah
susah-payah menebar benih dan merawatnya.*

* *

*Nah, nikmatilah hasil beternak ide. Namun pertanyaan pertama, sudahkah kita
punya nyali untuk beternak ide?*

* *

* *

*Langkah 3: Berbukalah Dengan Tiga Kata***

Menulis adalah makanan jiwa. Ia merupakan bentuk ekspresi diri, yang menurut
Abraham Maslow, merupakan bentuk keparipurnaan psikologi seorang individu.
Jika Anda ingin sekali mencurahkan isi hati, mendamba sangat untuk
menuangkan isi otak namun tangan kaku atau — dalam istilah Taufik Ismail–
lumpuh menulis, hmm, barangkali secara tak sadar Anda sedang “berpuasa”.
Otak Anda sedang rehat, menunggu waktu berbuka. Jiwa Anda menggelegak namun
tangan kelu beku di depan *keyboard *komputer atau pena terkulai loyo di
atas kertas. Jadi, marilah berbuka!

“Kak, gimana caranya?” seorang anggota baru FLP bertanya demikian.

Yang tidak bertanya atau malu bertanya, lebih banyak menerawang ke langit
atau menekuri bumi. Sebuah pemandangan umum yang saya temui dalam berbagai
pelatihan menulis mulai dari anak-anak buruh pelabuhan Tanjung Priok, siswa
SMA di sebuah kawasan elit, karyawan-karyawan sebuah departemen bahkan
hingga anggota baru sebuah komunitas kepenulisan (baca: Forum Lingkar Pena).
Mereka lupa bahwa ide harus dikejar, bukan dinanti seperti pasifnya menanti
kereta Jabotabek yang kerap telat. Mereka abai bahwa seorang Sean Connery–
dalam *cast*-nya sebagai seorang penulis dalam film *Finding Forrester* —
mendidik keras tentornya agar “menuliskan apa yang terlintas, bukan
memikirkan apa yang hendak ditulis”. Namun, jika konsep itu kelewat mewah,
maka seperti berbuka puasa, awalilah dengan yang ringan. Jika berbuka
disunnahkan dengan kurma, maka berbukalah dari puasa menulis dengan tiga
kata.

“Caranya?” Mata-mata bingung itu menatapku tajam. Mungkin mereka kira saya
bercanda.

Apapun bentuk tulisan Anda, persetankan apapun kata kritikus nantinya,
“dobrak” kebekuan es dalam benak dengan menuliskan “tiga kata”. Apapun kata
yang terlintas di benak Anda. Contoh: Apa yang Anda pikirkan saat membaca
tulisan ini? Sebut saja: *bingung,* *penasaran* dan *tak tahu*. Yup! Anda
sukses mencicipi “kurma”. Apakah Anda biarkan kurma itu sekedar menempel di
bibir? Jangan puas hanya dengan merasakan teksturnya. Santap saja, Kawan!

Buatlah kalimat dari ketiga kata temuan tersebut. Tak peduli dari manapun
kata itu Anda pungut (apakah dari kelebatan rok mini cewek kantoran di depan
Anda, dari *headline* sebuah koran atau dari kelebatan iseng), tuliskan
saja. Misalnya, terciptalah, *”Aku bingung dan penasaran untuk menulis apa
yang aku tak tahu untuk menulisnya.” * Itu satu contoh. Terus, dan teruslah
menulis. sengawur apapun. Hingga, singkat cerita, terciptalah sebuah
paragraf pendek berikut:

“*Aku bingung dan penasaran untuk menulis apa yang aku tak tahu untuk
menulisnya. Tapi aku tahu harus menulis apa. Karena aku penulis serba bisa.
Biarpun judulnya “Kecanggihan Teknologi IT” tapi aku tahu aku pasti bisa
menulisnya. Apapun itu…”*

*Langkah 4: Menentukan Judul*

Sahabat, buatlah judul yang membuat penasaran, *eye-catching* . Awali tulisan
kita dengan ledakan (*bang*), mengutip Ismail Marahimin dalam *Menulis
Secara Populer*. Ada prinsip kuno—dengan majas ironi—dalam jurnalisme: *Good
news is bad news, but bad news is good news*. Contoh klasiknya adalah berita
yang luar biasa bukanlah anjing menggigit orang tapi orang yang menggigit
anjing. Barangkali terkesan ngawur. Namun dalam konteks menarik perhatian
pembaca, pendekatan tersebut bisa kita pakai. Misalnya dalam pemilihan
judul. Seperti manusia, penampilan luar adalah hal penting. Dalam konteks
ini, maaf, kata mutiara *don’t judge the book by its cover* menjadi kurang
relevan.

Surat kabar nasional sejenis *Poskota* atau *Rakyat Merdeka* biasa memampang
judul yang provokatif seperti: “JANDA DIPERKOSA, RAIB 300 JUTA”. Meskipun
kadang informasi tersebut hanya dibahas sekilas. Tapi intinya tonjolkan
kelebihan dan tutupi kekurangan dalam tulisan kita. Ini sah-sah saja dalam
dunia penulisan yang bisa dibilang sudah menjelma menjadi sebuah industri,
yang karib dengan pranata pemasaran (*marketing* ) yang canggih.

Perlu diingat juga prinsip *marketing* yang kerap dikutip Zig
Ziglar—salesman mobil terlaris dalam sejarah–bahwa “orang membeli karena
didorong emosi”. Coba pelajari emosi dasar apa sih yang memancing naluri
pembaca untuk membaca? Judul yang memancing naluri seksual (itulah alasan UU
Pornografi perlu disokong), SARA atau kebutuhan perut tentu lebih mengundang
perhatian ketimbang seputar pemikiran ilmiah atau berat (kecuali pembaca
kita adalah ilmuwan, lain soalnya).

Sesuai Teori Hierarki Maslow bahwa kebutuhan akan hal-hal tersebut
adalah *basic
needs* yang merupakan dasar piramida dalam *survival hierarchy*, sementara
kebutuhan akan prestasi atau ekspresi diri adalah bagian puncak piramida
yang hanya akan dicapai bila perut sudah kenyang atau kebutuhan lain akan
keamanan terpenuhi. Lebih jauh judul juga perlu disesuaikan apakah kita akan
mengembangkannya menjadi bentuk tulisan non-fiksi atau fiksi.. Dalam hal ini
wajib hukumnya pertimbangan yang matang dan amatan pasar yang cermat.
*Langkah 5: Bermain Dialog dan Narasi*

Di sisi lain, ada adagium penulisan *don’t tell it but just show it*. Jangan
cuma diceritakan tapi juga tunjukkan. Pelukisan kejadian atau tindakan dalam
sebuah tulisan dapat memperlancar sebuah tulisan untuk dicerna dan diserap
saripatinya. Di sinilah dialog berperan. Karena dialog pun dapat
dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi. Josiph Novakovich dalam *Berguru
kepada Sastrawan Dunia* (Mizan, 2003) mengatakan: “*Karena dialog
mengungkapkan informasi tentang perjuangan seseorang, pastikan Anda tidak
memberi kami informasi yang sepele dan tidak relevan. Hindari pendahuluan
yang realistis; buatlah ringkasan pendahuluan yang enak lalu langsung masuk
ke dalam dialog….Jangan tunjukkan semua contohnya, sajikan yang dramatis,
saat diperlukan saja, dan sajikan yang lainnya dalam bentuk ringkasan*.”
(hal. 182-183).

Namun, terlalu banyak dialog, ujar Mohammad Diponegoro dalam *Yuk Menulis
Cerpen Yuk *(Shalahuddin Press, Yogyakarta, 1991*)*, bisa bikin tulisan
terlalu encer. Jadi memainkan keduanya butuh nilai rasa, seperti memainkan
gas atau persneling ketika mengendarai motor atau mobil. Seperti masakan
pula, coba minta keluarga atau sahabat kita untuk ‘mencicipi’ tulisan kita.
Apakah sudah *ganyeng *atau bumbunya sudah pas? Sudahkah mencapai efek yang
kita inginkan?

* *
*Langkah 6: Meniupkan Ruh Pada Sebuah Tulisan*

* *

Sahabat, mari kita bicara soal dua karya sastra termasyhur di Indonesia saat
ini. Yakni novel *Ayat-Ayat Cinta* dan *Laskar Pelangi.*

* *

Novel *Ayat-Ayat Cinta* karya Habiburrahman El Shirazy konon dicetak ulang
hingga lebih tiga puluh kali sejak pertamakali terbit pada 2004. Di layar
lebar, filmnya – meski banyak dinilai tak sesuai dengan isi novelnya — yang
digarap Hanung Bramantyo sukses memikat tiga juta orang untuk datang
menonton ke bioskop. Belum terhitung yang membeli DVD bajakannya. Sementara
*Laskar Pelangi* karya Andrea Hirata juga tak kalah masyhur. Selain *
best-seller* nasional, dielu-elukan sebagai *The Indonesia’s Most Powerful
Book* di berbagai *talkshow* termasuk di layar kaca, *Laskar Pelangi* juga
akan difilmkan dengan arahan Riri Riza. Sebuah catatan fenomenal mengingat
kedua novel itu notabene karya perdana kedua penulis muda tersebut.

Lebih mengagumkan lagi, *Laskar Pelangi* ditulis oleh Andrea Hirata yang
belum pernah membuat sepotong cerpenpun. Tak hanya itu, pemuda asli Belitong
yang alumnus S-2 Perancis ini pun melengkapinya dengan tiga novel lain yakni
*Sang Pemimpi, Edensor* dan *Maryamah Karpov*—yang secara keseluruhan
merupakan Tetralogi *Laskar Pelangi*. Habiburrahman yang santri Al Azhar
kelahiran Semarang juga membawa gerbong *Ketika Cinta Bertasbih 1 &
2*, *Pudarnya
Cinta Cleopatra*, *Di Bawah Mihrab Cinta *dan beberapa karya
*best-seller* lainnya yang juga bernafaskan religi romantis.

Terlepas dari segala kontroversi yang ada, dengan arif, layak kita bertanya
mengapa kedua novel karya dua penulis usia 30-an tersebut mampu mengharubiru
jagad sastra sekaligus merambah ranah populer publik negeri ini?

Sekian banyak orang bersaksi bahwa *Ayat-Ayat Cinta* dan *Laskar
Pelangi*mengubah hidup mereka lebih tenang, lebih baik. Seperti halnya
karya-karya
besar yang membawa perubahan di dunia, sebut saja novel *Uncle Tom’s
Cabin*buah karya Harriet Beecher Stowe (1852) yang menginspirasi
semangat
perubahan terhadap perlakuan rasis kaum kulit putih terhadap kulit hitam
atau berwarna di Amerika Serikat, novel-novel tersebut mengandung ruh
tulisan yang kuat yang mampu menyentuh hati dan menggerakkan pembacanya.
Sesuatu yang datang dari hati niscaya sampai ke hati.

Ruh, jiwa atau *soul *sebuah tulisan adalah hasil internalisasi visi, emosi,
dedikasi, pengalaman, logika, wawasan, *elan vital* (semangat) kontemplasi
dan keterampilan teknis seorang penulis. Porsi keterampilan teknis di sini
barangkali hanya sekian persen. Karena unsur-unsur lain yang lebih condong
mengetuk perasaan atau kalbu justru bisa jadi lebih dominan. Di samping juga
ia memenuhi syarat-syarat ketertarikan pembaca dengan sebuah tulisan: *
novelty* (kebaruan, misalnya tema yang baru dan berbeda dari mainstream), *
similarity* (kemiripan dengan keseharian hidup mayoritas pembaca) dan *
visionary* (memiliki pandangan jauh ke depan).

Ruh sebuah tulisan adalah virus yang menular. Ia seperti energi –dalam
hukum Kekekalan Energi Newton—yang tak dapat musnah namun berubah
bentuk. Energi
dari sebuah tulisan karena pancaran energi cita-cita atau semangat sang
penulis yang terejawantahkan melalui kata sampailah ke pembaca dalam bentuk
inspirasi. Terciptalah keajaiban-keajaiban . Histeria gadis-gadis berjilbab
untuk berfoto bersama Kang Abik –panggilan populer Habiburrahman dan
berbagai testimoni tentang peningkatan iman para pembaca Muslim, atau tobat
totalnya seorang pecandu narkoba setelah membaca karya Andrea Hirata.
Merekalah yang hati-hatinya telah tersentuh, tercerahkan.

Hati nurani, demikian nama lengkap hati, menurut Nurcholish Madjid, berasal
dari kata bahasa Arab, “*nur*” yang artinya “cahaya”. Hati adalah tempat
cahaya bersemayam, yang menerangi kegelapan logika. Sementara ilmu adalah
cahaya, yang sejatinya berjodoh di hati. Jika keduanya bercumbu itulah
perkawinan kimiawi yang serasi.

Maka punyailah visi ketika menulis, alirkan emosi dan semangat
sejadi-jadinya, dan berjibakulah ketika melahirkan sebuah tulisan. Seperti
jihad seorang ibu saat melahirkan anaknya. Karena kita adalah ibu dari
‘anak-anak’ tulisan kita. Bahkan kita adalah ‘tuhan’ atas segala tulisan
kita. Ingatlah, Tuhan tak pernah lelah mencipta semesta. Itulah energi
Ilahiah atau profetik yang semestinya jadi sumur inspirasi sejati agar kita
punya stamina dan nafas panjang dalam karir kepenulisan.

Karena apapun caranya, menulis tak beda dengan berolahraga. Ia butuh energi.
Jika energi pendorong lemah alhasil yang lahir hanyalah tulisan yang
alakadarnya, loyo, dan tidak punya ruh atau *soul*. Jika ia manusia, tulisan
semacam itu hanyalah mayat, yang tak bernyawa. Atau bahkan bangkai.
Percayalah, seperti kata Dale Carnegie, *no one kick the dead dog*. Tidak
ada yang peduli dengan bangkai. Sederet karya di atas dipuji sekaligus—ada
yang–dicaci- maki karena mereka hidup, bernyawa.

* *

*Langkah 7: Menjadi Epigon: Salahkah?*

* *

*“Yang paling penting bagi setiap pengarang ialah jiwanya sendiri..*.”

*(John Cowper Powys)*

Yang namanya ekor letaknya selalu di belakang. Ia membuntuti sesuatu yang
berada di depannya. Dalam kepenulisan, orang yang meniru-niru gaya tulisan
seorang penulis lazim disebut *epigon*. Sebagaimana ekor yang takkan pernah
mendahului kepala, seorang epigon tidak akan pernah berhasil mengungguli
penulis yang ditirunya. Lantas salahkah menjadi epigon? Salahkah bila kita
meniru gaya bertutur JK Rowling atau gaya kontemplatif Goenawan Mohammad?

Prinsip belajar yang paling primitif adalah mengamati dan meniru. Bayi
manusia belajar berbicara dengan mengamati dan menirukan suara-suara di
sekitarnya terlepas dari apapun penafsiran manusia dewasa akan hasil
peniruan sang bayi. Demikian juga dalam kepenulisan. Prinsip *copy the
master* adalah kelaziman—sebagian buku panduan menulis bahkan menyebutnya
“kewajiban”—dalam tahap awal pembelajaran menulis. Sebagian penulis besar
Indonesia yang dicatat Pamusuk Eneste dalam serial buku *Proses Kreatif*—dari
A.A Navis sampai Arswendo Atmowiloto—bahkan menerjemahkan prinsip tersebut
dengan menyalin atau mengetik ulang tulisan-tulisan penulis idola mereka
untuk kemudian dibaca dan dibedah isi perutnya.

Bagi seorang penulis, menjadi epigon adalah seperti menjadi seorang bayi.
Sebagai “bayi”, meniru atau mengimitasi adalah perlu. Tak perlu malu
menuruti George Orwell, seorang penulis Inggris yang bernama asli Eric
Arthur Blair dan populer dengan novel *1984 *dan *Animal Farm,* yang
menyarankan agar kata-kata dalam tulisan kita hendaknya pendek-pendek dan
lugas agar pembaca terang dengan maksudnya. Karena, lanjutnya, musuh besar
bahasa yang jernih adalah ketidaktulusan. Ketika ada jurang antara maksud
sesungguhnya dan apa yang diungkapkannya, secara naluriah orang berpaling
pada kata-kata panjang dan ungkapan yang lemah, bagaikan cumi-cumi
menyemburkan tintanya. Intinya, kalimat-kalimat panjang sebenarnya
menandakan sang penulis tidak terbuka dalam menyampaikan maksudnya. Juga tak
perlu sungkan membeo wejangan Ernest Hemmingway—yang piawai dengan diksi
yang sederhana namun kuat dan dialog-dialog yang tajam seperti dalam
beberapa karyanya yakni *For Whom The Bells Toll* dan *The Oldman dan The
Sea*—bahwa cara terbaik untuk mengetahui apa sesungguhnya perasaan kita
adalah dengan menuliskan perasaan tersebut.

Namun hidup manusia tak sekadar dan tak layak terhenti pada masa bayi atau
kanak-kanak. Kisah manusia yang selamanya kanak-kanak hanya ada dalam
dongeng *Peter Pan* dengan peri Tinker Bell-nya. “Bayi” butuh menjadi
dewasa. Ia butuh menjadi diri sendiri. Para penulis atau pengarang besar
meraksasa karena mereka kreatif membebaskan diri dari meniru gaya para
penulis terdahulu yang dikagumi. Karena, ujar Mochtar Lubis, imitasi
bagaimanapun juga baiknya akan tetap tinggal imitasi. Dan gaya pengarang
tergantung sebagian besar dari watak pengarang itu sendiri. Ia haruslah
menumbuhkan gaya mengarang sendiri, yang sesuai dengan watak, emosi dan
dengan pertimbangan serta apresiasi bahasanya sendiri. Atau dalam bahasa
John Cowper Powys, “Yang penting bagi setiap pengarang ialah jiwanya
sendiri; apa yang dimilikinya dalam kepalanya, dalam alat-alat panca
inderanya, dalam watak dan pribadinya, dalam darah dan temperamennya.”
Alhasil, tulis Pramoedya Ananta Toer dalam *Jejak Langkah* yang merupakan
salah satu roman dalam Tetralogi Pulau Buru, sesederhana apapun cerita yang
dibuat, ia mewakili pribadi individu atau bahkan bangsanya.

Jadi, salahkah menjadi epigon?

*Maybe yes, maybe no*.

*Ya*, menjadi epigon adalah salah apabila kita melakukan kesalahan
sebagaimana salahnya bayi yang menolak menjadi dewasa. Ia selamanya kerdil
dalam bayang-bayang orang-orang besar. Seperti kata Mochtar Lubis, lagi-lagi
dalam *Sastra dan Tekniknya*, bahwa orang hanya menulis apabila ada sesuatu
dalam jiwanya yang mendesak-desak, memaksanya mengambil alat tulis dan
menulis. Jika orang mengarang karena ikut-ikutan atau sekadar meniru karena
ingin terkenal atau masyhur maka orang yang demikian pastilah dari semula
tidak akan berhasil menjadi pengarang. Sang *epigon primitif* ini tak akan
pernah mengungguli para pengarang aslinya.

*Tidak*, menjadi epigon tidak salah apabila kita memperlakukan masa peniruan
yang entah sekian tahun lamanya itu sekadar sebagai masa *pendadaran* , masa
awal pembelajaran yang tentu saja waktunya pun tidak mungkin selamanya.
Anggap saja fase menjadi epigon itu sekadar fase ketika kita mulai menaiki
bahu-bahu raksasa agar kita dapat melihat dunia dengan sudut pandang yang
lebih luas. Hingga akhirnya tibalah saatnya tumbuh sayap-sayap keberanian
kita untuk melompat dan terbang lebih tinggi. Dan bebaslah kita, seperti
bebasnya ekor cecak yang masih sanggup bergerak-gerak sendiri ketika
terputus dari tubuh inangnya. Jika kita berani mandiri seperti—sebuah contoh
yang sangat minimalis–ekor cecak maka kita adalah para *epigon
kreatif*yang berhak punya sayap-sayap keberanian sebagaimana berhaknya
bayi tumbuh
gigi sebagai tanda berjalannya proses kedewasaan yang lumrah.

Sayap-sayap keberanian itu sendiri tak mungkin tumbuh tanpa–dalam formula
untuk menjadi pengarang atau penulis yang baik menurut William Faulkner—99%
disiplin dan 99% kerja. “Jangan sibuk berusaha menjadi lebih baik dari para
pengarang yang lebih dahulu tapi cobalah menjadi lebih baik dari dirimu
sendiri,” pesan sang sastrawan peraih Nobel Sastra dari Perancis ini.

*Epilog*

Sahabat, demikianlah ketujuh langkah awal *free writing* fiksi. Ini hanyalah
rangkuman bebas dan bukan sebuah dogma yang wajib diimani. Karena tak ada
salah dan benar dalam teori kreatif sastra. Namun tak ada salahnya belajar
dari perasan ilmu pengetahuan, pengalaman dan penelitian orang lain
bukan? Karena
kita semua,tak kenal penulis yunior atau senior, sejatinya adalah
pembelajar. Maka bebaskan diri untuk terus belajar dan nikmati proses jatuh
bangun dalam kepenulisan dengan berbekalkan dua kata: *Tetap Semangat!*

Semoga bermanfaat.

*Situs penulisan yang direkomendasikan*

http://www.rumahdunia. net, situs resmi milik komunitas Rumah Dunia asuhan Gola Gong

http://www.penulislepas. com, situs kepenulisan milik komunitas Penulislepas. com

http://www.rayakultura. net, situs kepenulisan asuhan Naning Pranoto, seorang
pengarang senior

*Buku kepenulisan yang direkomendasikan*

*How To be A Smart Writer* karya Afifah Afra

*Menulis Itu Gampang* karya Arswendo Atmowiloto

*Yuk, Menulis Cerpen Yuk* karya Muhammad Diponegoro

*Teknik Mengarang* karya Mochtar Lubis

*Sastra dan Tekniknya* karya Mochtar Lubis

*Proses Kreatif* karya Pamusuk Erneste

*Berguru Kepada Sastrawan Dunia* karya Josiph Novakovich

*Menulis Secara Populer* karya Ismail Marahimin

-“A long journey begins with one small step” (Chinese proverb)
Nursalam AR
Translator, Writer & Writing Trainer
E-mail: salam.translator@ gmail.com
YM ID: nursalam_ar
http://www.nursalam.multiply.com/

sumber: nursalam.ar@ gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: