Posted by: biru langit | 04/04/2009

dialog sang pembunuh

oleh : muhammad reza (blokan_g@yahoo.co.id)
diambil dari milis wordsmart center

Disinilah petualanganku berakhir, di depan regu penembak yang siap melaksanakan tugasnya, memuntahkan peluru ke arah kepalaku, mengeksekusi narapidana hukuman mati, semua berawal dari pekerjaan terakhir yang kulakukan.

Moncong senjata api di tanganku tepat mengarah jidat lelaki setengah baya di depanku, saat-saat seperti inilah yang paling kutunggu, saat penuh sensasi hebat, detik-detik dimana aku akan mencapai satu kepuasan tiada tara , saat dimana aku merasa bagai Tuhan, memegang kendali atas kehidupan seseorang.

Aku telah melakukan pekerjaan ini berulang kali, pekerjaan yang akan kutekuni dan kunikmati setelah sebelumnya malang melintang di dunia hitam kejahatan, pekerjaan inilah pekerjaan yang kuanggap cocok, sesuai dengan panggilan jiwaku, naluri buas yang mengendap dalam ragaku.

Korbanku kali ini seorang seorang wanita berusia kira-kira lima puluh tahunan, tepatnya seorang hakim wanita berusia setengah baya.

Dari media masa maupun media elektronik aku tahu, klien yang menggunakan jasaku terlibat satu urusan pelik dengan hakim wanita yang terkenal jujur dan tegas ini, urusan hukum yang pasti akan membuatnya masuk kerangkeng, dibui puluhan tahun, atau mungkin saja Bu Hakim ini akan menjatuhkan vonis seumur hidup padanya.

Klien tersebut memberi order dengan imbalan yang cukup memberiku cuti berbulan-bulan, menghabisi nyawa hakim ini.

Bertahun-tahun lalu, sejak profesi pembunuh bayaran kuputuskan sebagai pekerjaan tetap, aku telah melakukan banyak pembunuhan, dengan berbagai cara yang kulakukan dengan hati-hati dan tentu saja rapi, kuatur sedemikian rupa sehingga aparat tidak akan pernah bisa melacak jejakku sebagai pembunuh.

Dari sekian cara yang telah kulakukan, cara seperti inilah yang paling kunikmati, menodong langsung senjata api ke wajah calon korbanku, ketika itu, aku akan menikmati sorot memohon dari mata korban, sorot mohon belas kasihan agar aku tidak membunuhnya, saat dimana aku merasa mempunyai hak atas selembar nyawanya.

Biasanya, korban yang kepadanya kutodongkan senjata akan lemas tak berdaya, lututnya goyah bahkan ada yang sampai kencing di celana, peluh bercucuran, keringat dingin membasahi wajah dan badannya, dan kemudian menatapku iba, memohon ampunan kepadaku.

Tapi ada yang beda dengan calon korbanku kali ini, seorang hakim yang harga nyawanya setara dengan uang ratusan juta rupiah.

Ia sama sekali tidak gentar, aku tidak mendapatkan wajah ketakutan yang biasa kutemui pada korban-korbanku yang lalu. Sorot matanya tegas, menatapku tajam. Kebalikan dari semua pekerjaan yang telah kulakukan, ia malah menatapku iba, menatapku dengan belas kasihan, hal yang kuanggap gila, dari caranya memandangku, ia tidak minta dikasihani, tapi wanita ini yang kasihan terhadapku.

Suasana ini membuatku gugup dan membuatku tidak nyaman. Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan dari keningku, seakan aku baru pertama kali melakukan pekerjaan ini.

“Kenapa? Anda terlihat gugup?” ucapnya tegas.

Aku menyeka peluh di keningku. ”Siapa yang gugup? Tinggal menarik pelatuk, maka semuanya akan selesai, Bu Hakim,” kataku dengan menekan nada suara, agar tidak ada kesan gugup dari ucapanku.

“Maka lakukanlah, tarik pelatuk itu, semuanya akan selesai.”

Gila, wanita ini malah memancingku.

“Akan kulakukan, Bu Hakim, pasti akan kulakukan,” kataku dengan seringai yang kupaksakan.

”Kenapa tidak segera anda lakukan?”

”Anda harus tahu, Bu Hakim, aku biasa memberikan kesempatan bicara pada korbanku, sekedar pesan perpisahan pada dunia ini,” jawabku cepat, detak jantungku semakin kencang, perasaan yang sebelumnya tidak pernah kurasakan.

”Anda mau mendengar kalimat terakhir dari korbanmu?”

Aku merasa sudah menguasai keadaan, hal seperti ini memang kuharapkan, ketika calon korbanku mengatakan kalimat terakhirnya, permohonan agar aku mengampuninya.

”Lakukanlah! Segera selesaikan tugas anda, anda datang ingin membunuh, silahkan, lakukanlah!”

Gila.., aku menyeka lagi keringat dingin yang makin deras mengalir, kenapa semua jadi seperti ini, seharusnya wanita ini ketakutan dan memohon iba padaku, tapi kenapa hal tersebut tidak terjadi, seperti korbanku yang lalu.

Lenganku meregang kaku, dengan pistol di tangan tepat mengarah jidat wanita itu, tapi ia tidak ketakutan, sebaliknya, ketakutan itu perlahan malah menghampiriku.

”Katakan alasan agar timah panas ini tidak menembus kepala anda, Bu Hakim?” tanyaku dalam kegugupan, pertanyaan konyol yang seharusnya tidak kuucapkan.

Tidak kuduga, tatapan tegas hakim itu mengendur, ia malah menatapku lembut, siratan mata yang benar-benar mengasihiku.

”Kenapa anda harus mendengar alasanku, katakanlah! Alasan apa kenapa sampai detik ini anda tidak menarik pelatuk, anak muda?” wanita hakim itu balik bertanya.

Aku mendesah resah, ”Kenapa anda sama sekali tidak takut?” tanyaku gamang.

”Apakah pistol yang anda arahkan membuatku takut, sama sekali tidak, anak muda, kematianku bukan karena pelatuk yang anda tarik,” jawabnya.

”Apakah pistol yang anda arahkan membuatku takut, sama sekali tidak, anak muda, kematianku bukan karena pelatuk yang anda tarik,” jawabnya.

Aku semakin resah, wanita hakim ini memang gila, yang dikatakan orang memang benar, ia seorang hakim yang teguh, tidak takut atas resiko apapun dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum.

Klien yang menyewaku pasti sudah putus asa menghadapi hakim ini, uang ratusan juta rupiah pasti tidak mempan untuk menyogoknya, besok ia akan mengetuk palu, menjatuhkan vonis atas pelanggaran yang dilakukan penyewaku, pantas saja harga selembar nyawanya sebanding dengan uang ratusan juta, ia memang wanita yang hebat.

Hakim calon korbanku tersenyum, sebuah senyum aneh yang diberikan oleh orang yang akan kuhabisi nyawanya.

Saraf keteganganku mengendur, aku menurunkan pistol yang mengarah padanya.

”Kenapa anda sama sekali tidak takut, Bu Hakim?” tanyaku lagi.

”Kenapa aku harus takut, Yang Mahakuasa yang menjagaku, kuserahkan total hidupku pada-Nya. Seperti ia menjaga anda dari semua pembunuhan yang anda lakukan.”

“Apa maksud anda?” tanyaku lugu, aku seperti pelaku kejahatan yang akan memasuki gerbang tobat.

“Sampai saat ini, Allah belum menjatuhkan hukum-Nya pada anda, anak muda, itu berarti anda masih mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya, memberi waktu agar anda bertobat dan kembali pada jalan-Nya, dan jika anda tidak menyadari rahmat itu, anda akan mati dalam kehinaan, menghadap keharibaan-Nya, sedangkan tangan anda masih berlumuran darah.”

“Aku…” aku diam, tidak dapat meneruskan kata-kata.

”Lakukanlah apa yang ingin anda lakukan, hidayah bisa saja datang pada anda malam ini, tapi anda bisa saja menampiknya,” kata hakim itu kemudian.

Aneh, sungguh aneh yang kualami malam ini, malam dimana aku harus menghabisi nyawa seseorang, atas pesanan orang lain.

Aku telah berada di depannya, aku telah menodongkan moncong senjata yang akan merenggut nyawanya.

Tapi itu semua tidak terjadi.

Sekarang, aku duduk bersimpuh di depannya, seperti seorang anak kecil yang merengek, menangis atas sesuatu yang diinginkan.

Sepersekian menit kemudian, aku bangkit, akan kulakukan hal yang memang harus kulakukan.

Setitik air mata tak dapat kubendung ketika pelatuk kutarik, ia sama sekali tidak menjerit kesakitan ketika timah panas menembus kepalanya.

Pagi harinya, aku menyerahkan diri kepada polisi, mengakui bahwa akulah pembunuh hakim wanita tersebut.

**selesai**


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: