Posted by: biru langit | 04/01/2009

Maafkan Bunda, Anakku!

“Ayah aja ya, yang ambil formulir Dani ke sekolah. Bunda nggak enak badan,” ujarku pada suamiku pagi itu.

“Kenapa sih, Bunda nggak mencoba untuk tidak menjadikan hal ini sebagai beban pikiran yang berlebihan,”jawab suamiku dengan nada sedikit mengeluh.

Aku diam saja memandangi suamiku yang bersiap-siap ke kamar mandi.

Jam delapan pagi suamiku berangkat. Setelah menutup pintu pagar, aku masuk kembali ke rumah. Dani, putraku satu-satunya sedang asyik bermain PS. Minggu-minggu terakhir ini waktunya banyak dihabiskan dengan permainan itu.

Kepalaku terasa berat. Aku masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Mataku terpaku pada foto keluarga yang dipasang di dinding kamar. Foto itu diambil dua tahun yang lalu waktu Dani berumur dua tahun. Aku tersenyum menatap Dani. Kata orang-orang wajah Dani sangat mirip dengan wajahku. Mukanya oval, serasi sekali dengan hidungnya yang mancung. Kulitnya yang putih bersih, sangat menggemaskan. Saat kutatap matanya, terasa ada yang miris di hatiku. Mata Dani yang indah itu nyaris tidak pernah menatapku. Hampir tidak pernah Dani bertatapan denganku bahkan sampai 4 tahun usianya kini. Kadang aku merindukan dia membalas tatapanku saat aku memandangi dan menciuminya. Beberapa kali kucoba memaksa, mukanya kupegang, kuhadapkan ke wajahku,

“Lihat Bunda, Dan!” pintaku. Dani cuma melihat sepintas, kemudian matanya kembali berputar-putar menatap yang lain.

Dani juga memiliki kebiasaan yang cukup aneh. Dia sangat suka bermain dengan benda yang berbentuk bulat pipih. Mulai dari uang logam, koin, tutup botol, roda mobil-mobilan, sampai tutup panci. Bahkan jam dinding yang berbentuk bulat tidak bisa dipajang di dinding karena dia akan memintanya. Semua benda piupih itu disusun berjejer-jejer sambil diperhatikan dengan seksama dan berulang-ulang. Dani bia bermain dengan benda-benda bulat itu sendirian sampai berjam-jam lamanya.

Mungkin karena kesibukan kami bekerja, kami terlambat menyadari keganjilan Dani dalam bersikap dan berinteraksi dengan lingkungan. Saat Dani berusia dua setengah tahun tapi belum mampu mengucapkan kata yang berarti, kami belum menyadari bahwa itu adalah gejala mengkhawatirkan yang harus diwaspadai. Saat anak-anak lain menangis ingin ikut bila melihat orang tuanya berangkat, Dani hanya “cuek “ saja membiarkan kami berangkat bekerja. Alangkah naifnya kami di waktu itu, kami justru merasa Dani lebih cepat dewasa dibandingkan anak-anak seumurnya. Walaupun terkadang di hatiku terbetik tanda tanya, kenapa Dani tidak pernah memperlihatkan ekspresi sedih waktu ditinggal ataupun gembira di saat kami dating.

Waktu berumur 3 tahun, Dani sedikit bisa bicara. Namun kami masih menganggapnya normal walaupun dia sering mengucapkan “mama” hampir ke semua wanita dewasa yang menggendongnya.Dani juga tidak bisa mengenaliku jika aku berada di tengah-tengah ibu-ibu yang ama-sama berkerudung. Dani akan berkeliling-keliling mencariku walaupun dia sudah melewatiku beberapa kali. Yang membuatku sangat sedih, Dani sepertinya tidak mengenali namanya sendiri. Dia tidak merespon sama sekali kalau dipanggil, seperti tidak mendengarnya, padahal aku yakin pendengaran Dani cukup baik untuk hal-hal yang menarik hatinya.

Sampai sekarang Dani masih menggunakan pampers. Waktu usianya tiga tahun pernah dicoba untuk melepas, karena dia sudah bisa mengucapkan kata “pis dan ee”. Namun Bik Irah yang membantuku merawat Dani dari kecil mengeluh malam sepulang aku bekerja.

“Bu, Dani selalu ngompol dan ee’ di celana. Apa mesti dipasang pampers lagi ya Bu?”

“Bukannya Dani udah bisa bilang, Bik?” tanyaku

“Iya Buk. Tapi Dani sepertinya belum mengerti arti kata yang diucapkannya. Kalau dia bilang pipis atau ee’, saya dudukkan dia di toilet. Saya tungguin, kadang sampai setengah jam. Namun dia tidak buang air sama sekali. Kemudian dia saya angkat lagi. Setelah main sejaman, baru dia buang air di celana. Sudah beberapa kali saya cobakan sejak dicoba nggak pakai pampers. Mungkin memang benar Bu, Dani belum mengerti arti kata-kata itu,” ujar Bik Irah mengemukakan pendapatnya.

“Ya sudahlah Bik, gimana bagusnya ajalah,” kataku akhirnya.

  • **

Malam itu aku terbangun jam satu malam ketika kudengar Dani mengoceh sendiri. Dia memang sering terbangun malam dan bermain sendiri bahkan kadang-kadang sampai pagi. Dani turun dari tempat tidurnya dan mengambil mainan bulatnya. Kemudian dia menyusun berjejer-jejer seperti biasa dengan sangat teliti dan rapi. Kemudian Dani berjalan mengelilinginya. Mula-mula pelan, kemudian tambah lama tambah cepat. Akhirnya Dani berlari-lari di sekeliling mainannya. Semakin lama semakin kencang. Sampai akhirnya begitu kencangnya sehingga aku sulit untuk melihat posisinya. Aku merasa pusing melihatnya berputar-putar seperti gasing.

“Dani udahan! Nanti Dani pusing,” kata ayahnya mencoba menghentikan Dani. Dani tidak mendengarkannya, dia terus saja berputar.

“Dani, udah nak. Kalau pusing kepalanya nanti bisa terbentur di lantai,” kataku berusaha menangkapnya, tapi terlepas, dia licin seperti belut. Dani bahkan berlari semakin kencang. Di mataku, Dani terlihat hanya seperti bayang-bayang. Terlihat tapi tidak bisa ditangkap. Mataku kabur berpendar-pendar mengikuti posisi Dani yang berpindah-pindah dengan sangat cepat. Aku terpaku di dalam pusaran lingkaran Dani. Air mataku menetes. Aku menangis, benar-benar menangis dari lubuk hatiku. “Anakku satu-satunya, apa yang tengah dialaminya?” Suamiku juga diam terpaku di luar pusaran lingkaran Dani. Kami berdua hening, larut dalam pikiran masing-masing.

Menit demi menit berlalu terasa begitu lamanya. Sampai setengah jam lebih Dani berputar-putar. Tiba-tiba dia berhenti dengan begitu mendadak. Hanya sepersekian detik dari kondisi berlari kencang langsung diam. Tanpa perlambatan sedikitpun. Aku ternganga. Dia tidak pusing. Tersenyum senang. Dia kemudian mengambil mainannya. Lambat-lambat aku mendengar tawa Dani. Tawanya lucu, riang dan menggemaskan, namun di telingaku terdengar begitu menyayat, seperti tembang kepedihan mewakili kegalauan hati seorang ibu.

Suamiku membimbingku ke tempat tidur. Namun aku tidak bisa memejamkan mataku sampai pagi. Aku larut dalam pikiran dan kekhawatiran tentang kemungkinan terburuk apa yang tengah dialami Dani.

  • **

“Dari hasil serangkaian tes yang telah dilakukan serta gejala-gejala yang diperlihatkannya, besar kemungkinan putra ibu mengalami autis,” kata dr. Hadi, psikolog yang kunjungi. Aku dan suamiku saling pandang tidak mengerti. Dr. Hadi sepertinya memahami kebingungan kami.

“Penyakit autis muncul akibat kelainan di susunan saraf otak. Ditandai dengan adanya kelainan perilaku dan respon yang sangat minim terhadap lingkungan. Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun penyebab utama diperkirakan karena factor genetic. Selain itu ada juga kemungkinan akibat imunisasi, kebocoran usus, alergi protein tertentu, keracunan logam berat dan beberapa penyebab lain.. Penyandang autis seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri. Perilakunya tidak berkembang serta tidak mampu memahami instruksi.”

“Apakah masih mungkin dipulihkan, Dok?” suamiku bertanya penuh harap. Aku menarik nafas panjang, kecemasan menyergapku mambayangkan masa depan Dani.

“Dari beberapa metoda terapi yang telah diaplikasikan, 50 % penderita dapat sembuh, bahkan benar-benar bisa hidup normal. Ini adalah suatu kemajuan yang menggembirakan, karena sebelumnya dianggap anak autis tidak punya harapan sembuh sama sekali. Namun ini juga tergantung dengan berat-ringannya penyakit yang diderita anak, usia ideal terapi yaitu usia 2-3 tahun, IQ anak, serta keutuhan pusat bahasa di otak anak. Disamping itu juga harus diwaspadai adanya penyakit penyulit yang mungkin akan mengganggu proses terapi seperti adanya faktor retardasi atau keterbelakangan mental, epilepsi ataupun down sindrom ”

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk terapinya , Dok?”

“Diperlukan waktu sekitar 2-3 tahun, dengan catatan terapi yang dilakukan harus konsisten. Minimal 8 jam sehari atau 40 jam seminggu atau maksimal selama anak bangun.”

“Lama juga ya ,dok . waktu terapinya,” ujarku pelan seolah hanya untuk diriku sendiri.

“Yah, memang, Namun bukan berarti tidak bisa dilaksanakan” jawab dokter Hadi. “Untuk membantu, selain terapi dapat juga dimasukkan ke sekolah SLB khusus autis. Bila kondisi anak sudah relatif normal, nanti bisa dimasukkan ke sekolah regular.”

Aku terperangah. “Masuk SLB?Bukankah itu sekolah khusus anak-anak cacat? Apa kata orang-orang nanti? Bagaimana mungkin aku menjawab pertanyaan mereka! Aku yang sedari kecil selalu menjadi bintang kelas, siswa teladan dari SD sampai SMA, luluan terbaik fakultas dari perguruan tinggi favorit di Indonesia, bagaimana mungkin memiliki anak yang sekolah di SLB?”

Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak bicara sama sekali. Pikiranku dipenuhi oleh pembicaraan dengan dokter tadi. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang anak yang sekolah di SLB, sementara anak teman-temanku berlomba disekolahkan di sekolah favorit? Apa nanti yang akan kujawab bila ada yang bertanya dimana anakku bersekolah? Rasanya aku tidak sanggup menghadapi pandangan yang meremehkan bila orang-orang tahu dengan keadaan anakku yang sesungguhnya.

“Sepertinya memang harus ada yang kita korbankan untuk kesembuhan Dani, Bunda!” Sebelum tidur suamiku mengajakku berbicara.

“Agar kita bisa melaksanakan terapi secara konsisten setiap hari, bahkan selama Dani bangun untuk jangka waktu yang bertahun-tahun , rasanya tak mungkin tugas itu kita serahkan kepada Bik Irah.”

“Maksud ayah bagaimana?” tanyaku.

“Bagaimana kalau Bunda berhenti bekerja agar pengobatan yang kita lakukan terhadap Dani bisa optimal? “ Tanya suamiku hati-hati.

Aku terdiam. Berhenti bekerja? Mengorbankan karir yang sudah kubangun sejak 8 tahun yang lalu? Haruskah aku melepaskan jabatan manajer produksi pada perusahaan makanan instant terbesar di Indonesia ini? Alangkah sayangnya income Rp. 15 juta per bulan yang selama ini sangat berperan menopang ekonomi keluargaku. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan hanya mengandalkan gaji suamiku yang berprofesi sebagai PNS?

Delapan tahun yang lalu, cuma aku satu-satunya sarjana “fresh graduate” yang diminta langsung oleh perusahaan untuk bekerja bahkan sebelum aku diwisuda.

“Selamat ya In, udah “cum laude”, lulusan terbaik fakultas, langsung dapat kerja lagi, tanpa harus ngelamar dulu,” teman-teman berkomentar kagum dengan prestasiku saat kami makan-makan sehabis wisuda.

Ah, apakah semua ini harus aku tinggalkan?

“Ayah dapat memahami perasaan bunda. Tapi Dani lebih membutuhkan Bunda. Kepekaan naluri seorang ibu akan sangat membantu untuk kesembuhan Dani,” ujar suamiku lembut. Keteduhan matanya sedikit meredakan gejolak penolakan yang disuarakan hatiku.

  • **

Dua bulan sudah aku berhenti bekerja.. Rasa bosan mulai menguasaiku. Setiap hari pekerjaanku hanya menemani Dani. Namun keberadaanku rasanya tidak diacuhkan sama sekali oleh Dani. Bila dia membutuhkan sesuatu, dia akan menarik-narik tangan Bik Irah walaupun aku ada di sampingnya. Ketidakpedulian Dani dengan kehadiranku menjadi masalah tersendiri bagiku. Aku merasa kehilangan anakku.

Seperti kejadian pagi itu, Dani menarik-narik baju Bik Irah. Aku tahu pasti dia menginginkan sesuatu.

“Kenapa Dan, Dani mau apa? Sini Bunda yang ambilin,” bujukku sambil berusaha melepaskan tangan Dani dari Bik Irah.

Dani sepertinya tidak mendengarkanku dan semakin mengeratkan pegangannya.

“Iya Dan, sama Bunda tuh! Dani mau ambil sepeda bukan?” Bik Irah juga berusaha membujuk.

Dani bersuara “ Ahh, ah,” tapi tetap tidak mau melepaskan pegangannya. Pandangannya lurus keluar seperti menembus dinding, namun terlihat kosong. Aku membungkuk untuk menggendongnya. Dani mengibaskan tanganku yang memegang ketiaknya, tetap tanpa ekspresi sama sekali. Aku bertekad agar Dani mau mengikutiku. Sedikit memaksa, aku melepaskan tangannya dari Bik Irah. Langsung Dani kudekap dan kugendong. Tangannya menggapai-gapai Bik Irah, namun tidak kupedulikan. Kerinduanku akan respon Dani bahwa dia membutuhkanku, bahwa dia mempedulikanku, membuatku mengabaikan penolakan Dani. Dani menjerit-jerit histeris. Dia meronta lebih keras. Tenaganya ternyata cukup kuat untuk membuat peganganku terlepas. Dani berlari ke Bik Irah. Bik Irah langsung memeluk dan menggendongnya. Bik Irah mengusap-usap punggung Dani berusaha menenangkannya. Tangisan Dani mulai mereda. Aku terdiam melihatnya. Air mataku mengalir. “Anakku tidak membutuhkanku,” tiba-tiba saja pikiran itu melintas menguasa benakku.

“Ditidurkan aja dulu, Bik!” ujarku menyembunyikan getar kepedihan dalam suaraku. Aku masuk ke kamar menumpahkan sesak di dada lewat butiran air mata yang mengalir deras.

  • **

“Dani tidak membutuhkan Bunda, Yah!” perasaan kecewaku kutumpahkan pada suamiku menjelang tidur malam itu. Air mataku menetes menceritakan kejadian tadi siang.

“Yah, Ayah juga mengerti perasaan Bunda,” kata suamiku mencoba memahamiku. “Namun dari buku-buku autis yang ayah baca, anak autis memang sulit untuk menerima perubahan. Ayah rasa penolakan Dani tidak terkait dengan perasaan. Emosi yang mereka miliki sangat minim. Mereka terkadang agak seperti robot, terlatih berulang-ulang untuk hal yang sama dengan cara yang sama. Selama ini Dani sudah sangat terbiasa bila menginginkan sesuatu dengan cara menarik-narik tangan Bik Irah, Dani menjadi bingung saat Bunda berusaha untuk mengalihkannya. Akibatnya dia menjadi ketakutan dan histeris.”

“Tapi rasanya hampa Yah, menerima penolakan anak sendiri,” aku berkata pelan, mencoba mengurai perasaan terabaikan yang kurasakan akibat penolakan Dani. Rasioku belum mampu sepenuhnya memahami penjelasan suamiku.

“Ayah tidak mengecilkan arti pengorbanan Bunda yang telah berhenti bekerja. Tapi waktu 2 bulan mungkin belum cukup dibandingkan dengan 4 tahun yang telah dihabiskan Dani bersama Bik Irah. Untuk membantu mempercepat perkembangannya mungkin memang sebaiknya Dani kita masukkan ke SLB, Nda,.”

“Tapi Yah, rasanya Bunda belum siap kalau Dani harus masuk SLB. Bagaimana kita manghadapi pertanyaan orang-orang. Apa mereka tidak akan memandang rendah kita memiliki anak yang cacat. Bunda nggak sanggup, Yah!” aku menelungkupkan kepalaku ke bantal. Begitu berat rasanya beban di kepalaku.

Suamiku menarik nafas panjang.

“Kenapa kita harus takut dengan anggapan orang-orang. Kita menjadi tidak adil mengorbankan Dani, dengan tidak memberikan pendidikan yang semestinya hanya untuk menjaga nama baik kita di depan orang lain.”

Aku terdiam lama. Ucapan suamiku terasa menghakimiku. Namun aku mengakui kebenaran ucapannya.

“Yah…Terserah Ayah, deh!” kataku akhirnya dengan berat hati.

  • **

Aku tertidur cukup lama. Pikiranku terasa lelah. Jam 12 siang aku terbangun. Aku keluar kamar, ternyata Dani masih main PS. Bik Irah sibuk memasak.

“Dari jam 7 tadi Dani belum berhenti main PSnya, Bik?” Tanyaku pada Bik Irah.

“Iya Buk, tadi disuruh berhenti tapi malah ngambek. Menarik-narik tangan Bibik agar menyalakannya lagi.”

Seminggu ini waktu Dani sangat banyak tersita untuk main PS. Bila dilarang atau PSnya dimatikan, dia akan menjerit-jerit. Aku menjadi pusing. Pikiran lelah dan kecewa terhadap Dani yang kurasakan akhir-akhir ini membuatku membiarkan saja Dani sibuk dengan PSnya.

Siang ini aku berencana untuk membezuk Dian, anak Mbak Dini teman sekantorku dulu, yang sekarang dirawat di rumah sakit. Setelah shalat zuhur aku berangkat.

Mbak Dini terlihat kurus. Tiga bulan lebih aku tidak bertemu setelah dia berhenti bekerja karena anaknya diketahui mengidap kanker otak. Aku terenyuh melihat kondisi Dian. Berbagai macam selang terpasang di tubuhnya Tubuh itu sekarang sangat kurus, tulang pipinya terlihat menonjol.. Padahal dulu sebelum sakit Dian gemuk dan lucu, juga sangat lincah. Rambut Dian yang dulu ikal dan tebal, sekarang juga rontok sama sekali.

“Akibat kemotherapi, In.” Mbak Dini seolah mengerti jalan pikiranku. “Bahan-bahan kimia yang sangat keras yang dimasukkan ke tubuh Dian, di tubuhnya terasa sangat panas mengakibatkan semua rambutnya rontok,” suara Mbak Dini terdengar tabah.

“Proses kemotherapinya direncanakan enam kali, untuk membunuh sel-sel kanker yang bersarang di tubuh Dian. Namun pada kemotherapi ketiga ternyata tubuh Dian sudah menolaknya.” Mbak Dini menerangkan padaku waktu mengajakku ke kantin rumah sakit.

“Tapi Mbak Dini sangat tabah, ya,” ucapku tulus.

“Nggak juga , Intan. Pada awalnya saya tidak sanggup melihat keadaan Dian. Tapi justru dia yang menyemangati saya. Walaupun Dian baru 12 tahun, tapi ketabahannya luar biasa,” mata Mbak Dini berkaca-kaca..

“Anak adalah anugerah, dalam keadaan apapun. Pernyataan itu sangat benar. Bahkan dalam sakitnyapun dia bisa menjadi pengingat kita. Dokter mengatakan kankernya sudah menjalar sampai ke paru-paru. Kemotherapinya juga tidak memperlihatkan hasil. Harapan hidup Dian paling lama hanya enam bulan lagi. Walaupun kami tidak memberitahukan hal itu kepada Dian, tapi tampaknya dia sudah merasa hidupnya tidak lama lagi , Namun dalam kondisi seberat itu Dian masih mampu mengingatkan saya, “Mama tabah ya. Kata bu guru setiap yang hidup pasti meninggal. Kita harus ikhlas. Mama nggak boleh nangis lagi, ya.” Mbak Dini tak mampu menahan airmatanya. Airmatakupun tak mampu kutahan.

  • **

Pulang dari rumah sakit ucapan Mbak Dini tak bisa hilang dari ingatanku, “Anak adalah anugerah, dalam keadaan apapun.”

Wajah Dani menari-nari dalam benakku. Aku sangat merindukannya.

“Keikhlasan! Allah! Betapa jauh kata itu dari diriku. Betapa egoisnya aku selama ini.”

Suara hp dari dalam tasku memutuskan lamunanku.

“Buk, cepat pulang! Dani kejang-kejang, dia pingsan,” napas Bik Irah memburu panik.

Badanku terasa melayang. Pandanganku nanar. Mobil-mobil dihadapanku terlihat samar. Kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku tidak memperdulikan teriakan orang-orang melihat aku menyalip mobilnya tanpa pertimbangan.

“Dani, maafkan, Bunda, Nak!” aku menjeritkan kata itu dalam hatiku.

Kuparkir mobilku sembarangan di depan rumah. Aku melompat masuk. Bik Irah tengah mengelap cairan putih yang keluar dari mulut Dani.

“Cepat, Bik. Kita bawa ke rumah sakit,” aku dan Bik Irah menggotong Dani ke mobil.

Suamiku ternyata telah lebih dulu sampai di rumah sakit. Bergegas kami membawa Dani ke ruang ICU. Aku menangis dalam pelukan suamiku,

“Allah, beri aku kesempatan! Beri aku waktu untuk memperbaiki kesalahanku!”

Dokter menyuntikkan cairan kuning melalui dubur Dani. Perlahan kejangnya mulai berkurang. Tubuh Dani terlihat melemah, dia tertidur. Kami menarik nafas lega.

“Maaf pak, apa Dani terlalu intens menonton televisi?” dokter bertanya setelah kondisi Dani agak tenang sambil membolak–balik rekam medik Dani selama ini. Aku dan suamiku saling pandang. Aku mengingat-ingat.

“Kayaknya kalau nonton televisi,nggak terlalu Dok. Cuma dalam minggu ini hampir tiap hari dia main PS, kadang sampai berjam-jam. Memangnya apa hubungannya dengan kondisi Dani.?” Tanyaku.

“Besar kemungkinan akibat radiasi televisi yang intens, apalagi kalau main PS, saking fokusnya otak anak menjadi tegang. Hal ini dapat memicu gejala epilepsy. Beberapa waktu belakangan banyak ditemui kasus serupa. Ditambah dengan kondisi Dani yang mempunyai bakat autis.”

Aku terdiam. Kekecewaan yang kupupuk selama ini telah menambah penderitaan Dani.

“Allah, masih adakah kesempatan bagiku?”.

—- selesai ——-
oleh Irna Syahrial _ anggota FLP Bogor


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: