Posted by: biru langit | 04/01/2009

lanjutan cerpen Leo Tolstoy ‘sebutir gandum dari tanah Tuhan’

berikut adalah salah satu lanjutan tugas melanjutkan cerpen versi
Haris Wahid_anggota FLP Bogor….

panen-padi1

Aku menutup buku kumpulan cerpen Leo Tolstoy dan meletakkannya di atas meja kayu yang berbentuk bundar. Rasanya sangat lega saat merentangkan kedua tangan sambil menguap. Ah… nikmatnya melepas semua kepenatan yang terasa menumpuk. Mataku dimanjakan pemandangan coklat ladang gandum yang menghampar dan menari seirama hembusan angin. Sebentar lagi, tinggal hitungan hari saja gandum-gandum itu siap untuk dipanen. Kalian tentu tak akan percaya melihat bulir-bulir gandum kami yang lebih besar dari kebanyakan gandum lain. Gemuk, berisi dan tentunya menghasilkan tepung yang sangat banyak. Cukup banyak untuk memenuhi persediaan orang satu kampung.

Aku kembali duduk di bangku rotan yang sudah sepuluh tahun menghiasi beranda rumah mungil kami. Rumah mungil dengan dinding papan yang dicat putih. Rumah mungil ditengah-tengah ladang gandum. Ditengah lembah yang jauh dari kepadatan kota yang bising. Sendiri dan damai seperti surga kecil bagi kami. Kunaikkan kaki keatas meja dan menyandarkan tubuhku yang mengantuk kebangku rotan. Kututupi wajahku dengan topi jerami yang tadi kupakai. Udara yang terlalu panas membuatku terlalu malas untuk melakukan apapun saat ini. Bahkan Luna anjing gembalaku yang biasanya selalu berlarian kesana kemari, sekarang hanya berbaring di tangga beranda. Tak ada salahnya menikmati surga kecil ini setelah kerja keras yang panjang.

Hembusan angin yang semilir membuatku terkantuk-kantuk. Antara sadar dan tidak, pikiranku melayang ke beberapa tahun yang silam saat ayah menceritakan tentang kiriman dari temannya telah mencerahkan semua mimpi-mimpinya. Saat itu ia menerima bingkisan hadiah dari temannya yang tinggal di negeri yang sangat jauh. Setelah dibuka ternyata sebutir benda bening amber berbentuk telur, yang didalamnya terdapat sebutir gandum. Juga sebuah buku kumpulan cerpen Leo Tolstoy yang halaman sembilan belasnya sudah ditandai. Ada sebuah surat pendek yang menyertainya. Terlihat dari tulisannya kalau surat itu ditulis dengan terburu-buru.

Alfandi temanku,..
Mungkin ini adalah jawaban dari semua pertanyaan kita selama ini. Buku yang salah satu cerpennya kami pikir hanya cerita fiksi yang menceritakan semua legenda rakyat kami dari sudut imajinasi penulis saja ternyata benar adanya. Semua ini adalah nyata, senyata benda yang aku kirimkan sebagai salah satu buktinya. Bukankah dulu saat kita berdebat seru membahas isi cerpen ‘sebutir gandum dari ladang tuhan’ kamu mengatakan kalau fiksi itu sebenarnya keseluruhannya bersumber dari kenyataan. Kamu benar saudaraku.
Kami menemukannya beberapa di sebuah situs purbakala yang sedang kami teliti. Aku langsung teringat dengan riset-risetmu dan aku yakin akan sangat bermanfaat untuk riset yang sedang kamu kerjakan. Oleh karena itu aku mengirimkannya untukmu.
Hanya orang picik yang memandang rendah mitos-mitos rakyat tanpa menelitinya terlebih dulu lewat kaca mata ilmiah.
Salam hangat dari temanmu yang jauh….
Igor Sergevich

Ayahku adalah salah satu ilmuan yang namanya terkenal hampir di semua benua. Saat konflik yang berkepanjangan menjalar hampir ke seluruh pelosok dunia. Saat itu juga kelaparan mengiringinya tanpa belas kasihan. Ribuan orang kelaparan dan menderita akibat korban keegoisan para penguasa yang durjana. Ayah dan beberapa rekannya berkumpul dan berusaha menemukan solusi dalam mengatasi krisis pangan yang sudah banyak mengambil korban di setiap benua. Kesulitan bertambah dengan perubahan iklim yang drastis akibat pemanasan global. Beberapa tempat yang dulunya rimba belantara kini hanya berupa tanah kering dan tandus. Jangankan tanaman pangan bisa tumbuh, mungkin rumput pun enggan untuk menumbuhkan diri disana.

Ayah dan rekan-rekannya pun berusaha memulai penelitian masing-masing untuk mendapatkan solusi yang paling cepat dan baik. Setelah bertahun-tahun berlalu tanpa kabar. Satu surat datang dari Texas U.S. salah satu ilmuan Mark James menuliskan ia telah berhasil dengan tanaman kedelai raksasanya yang tahan terhadap penyakit dan hama. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa penelitiannya mundur seratus tahun. Sebab tanaman kedelai raksasa yang dinamainya golden mary akarnya mencemari tanah dengan mengeluarkan zat yang membuat tanaman lain tidak bisa tumbuh disekitarnya. Satu kabar lagi datang dari Raja Mohandes di India. Ia berhasil dengan sapi benggala yang menghasilkan susu yang sangat banyak. Ayah menjadi semakin termotivasi mendapat semua kabar itu. Apalagi beberapa penelitiannya belum ada satupun yang membuahkan hasil. Terakhir tanaman ubi rambat hasil rekayasa genetisnya tumbuh terlalu cepat, hampir memenuhi satu hektar lahan uji coba hanya dalam waktu kurang dari dua minggu. Untungnya tanaman liar itu hanya bertahan hidup selama dua minggu dan akhirnya mati dengan sendirinya. Target utama ayah sebenarnya menghasilkan tanaman padi varietas tinggi yang bisa ditanam disemua jenis tanah. Apalagi dengan kondisi tanah-tanah di Indonesia sekarang yang sudah tidak cocok lagi dengan sistem sawah yang harus menggunakan air yang banyak. Bahkan untuk kondisi sekarang pun padi gogo yang biasa hidup di tanah kering sangat susah untuk tumbuh.

Sampai akhirnya teman ayah seorang ahli purbakala mengirimkan telur itu. Sebetulnya itu bukan telur tapi hanya menyerupai telur. Seperti fosil serangga purba yang terjebak dalam getah amber lalu terkubur sampai berjuta-juta tahun kemudian, sampai ditemukan para ahli purbakala. Begitu juga dengan sebutir gandum ini. Terjaga dalam selimut amber menunggu saat yang tepat untuk ditemukan dan tumbuh memenuhi dunia kembali. Yang luar biasanya tak hanya awet tapi kondisinya masih sangat utuh belum rusak sama sekali. Seperti bulir gandum yang baru saja dilepas dari tangkainya. Berbekal DNAnya, ayahpun berhasil mengembangkan gandum yang serupa dengan gandum varietas tinggi dari masa yang lampau. Hektaran ladang gandum sejauh mata memandang adalah bukti kerja kerasnya .

Di jalan yang membelah ladang gandum kearah rumah kami. Sebuah titik hitam semakin lama semakin jelas. Seekor kuda dengan penunggangnya. Luna mendongak dan menyalak riang. Dengan cepat ia bangkit dan berlari menyongsong mereka. Aku bangun dari kursi rotan sambil melambaikan topi jerami tinggi-tinggi. Ayah pulang, sudah hampir satu minggu ayahku pergi ke kota. Sekarang untuk bepergian ketempat yang jauh hanya ada kuda atau sapi untuk menarik gerobak. Tak ada lagi kendaraan dengan bahan bakar fosil yang digunakan. Seharusnya aku yang pergi ke kota untuk mengambil surat-surat dan persediaan lainnya. Tapi ayah memaksa dengan alasan perlu penyegaran setelah berhari-hari menghabiskan waktu di laboratorium. Tak banyak yang tahu kalau dibawah rumah mungil kami tersembunyi sebuah laboratorium penelitian. Orang-orang yang datang berkunjung tak banyak bertanya kecuali tentang gandum dan atap rumah kami yang mencolok ditutupi panel-panel pembangkit tenaga surya.

Pintu kayu dibelakangku berderit. Aroma kue yang baru keluar dari panggangan menyerbu hidungku. Ibuku yang masih memakai celemek dan memegang lap berdiri dibelakangku. Sisa tepukan tepung gandum terlihat jelas menodai celemeknya. Ia tersenyum melihat jagoannya sudah pulang. Ayah turun dari punggung kuda dengan sigap. Kami saling berangkulan. Kulitnya terlihat lebih gelap terbakar mentari. Tak terlihat gurat kelelahan dari wajahnya usai perjalanan itu padahal usianya sudah genap sembilan puluh tahun.

“Alhamdulillah, semua pertanyaan kita hampir terjawab semuanya” kata ayah seraya menyodorkan sebuah bungkusan dan sebuah foto.

Aku memandangi sebuah foto yang tadi disodorkan ayah. Seorang lelaki dengan rambut yang seluruhnya putih tersenyum diantara lahan kedelai raksasa dan lahan gandum yang sudah siap dipanen. Bungkusan kubuka, didalamnya terkemas dengan sangat rapi butir-butir bibit kacang kedelai. Langit biru cerah tanpa awan. Segerombolan burung pipit terbang cepat lalu hinggap di tengah ladang. Matahari yang sudah condong ke barat sudah tidak terlalu terik. Ayah dan ibu beriringan memasuki rumah. Diikuti Luna sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Tinggal aku berdiri didepan beranda memandangi ladang kecokatan sampai ke ufuk langit, hatiku dipenuhi gejolak. Walaupun aku tidak bisa seperti ayah tapi kedua tanganku juga ikut andil menanam, menjaga dan merawat tiap batang gandum-gandum ini dengan kasih sayang. Terdengar ibu memanggil namaku dan aku segera memasuki rumah mungil kami. Rumah mungil bercat putih ditengah ladang gandum. Tapi mungkin tak lama lagi rumah mungil diantara ladang gandum dan ladang kedelai raksasa. Dan satu hal yang kuyakini kalau keduanya sama-sama berasal dari tanah Tuhan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: