Posted by: biru langit | 02/11/2009

‘MENYOAL PERSEPSI DAN MEMAHAMI ORANG LAIN’

JUDUL BUKU : AKU TERLAHIR 500 GRAM DAN BUTA
PENULIS : MIYUKI INOUE
PENERBIT : PT. ELEX MEDIA COMPUTINDO
TEBAL HALAMAN : 183 HALAMAN

miyuki3

Mempunyai anak yang sehat dan normal adalah idaman setiap orang tua. Tapi bagaimana seandainya anak yang dilahirkan cacat.Hati orang tua mana yang tidak akan sedih dan kecewa.Berbeda sekali dengan Michiyo Inoue, walaupun anak yang dilahirkannya cacat (buta) ia tetap mengganggap anaknya seperti anak normal lainnya. bahkan karena kebutaannya ia mengajarkan Miyuki Inoue (anaknya) untuk berusaha lebih lebih keras dari pada orang lain. saking kerasnya,
karena buku ini lebih mengambil dari sudut pandang si anak. si ibu lebih digambarkan tak punya rasa kasihan, galak bahkan dikatakan seperti jelmaan setan.

Perasaan pembaca lumayan diaduk-aduk saat membaca buku ini. saat mengikuti perkembangan Miyuki dari ia dilahirkan prematur (hanya sebesar genggaman tangan), bagaimana ia belajar naik sepeda(bayangkan saja orang buta berhasil mengendarai sepeda), sampai ia berhasil menjuarai lomba mengarang Tingkat SMP. Selama itu pula karakter si ibu digambarkan semakin keras dan galak saja.

Memang sih, kalau hanya melihat dari sudut pandang anak-anak. cara orang tua mendidik rasanya kadang tidak adil, keras, tidak pengertian atau mau menang sendiri. sampai kadang-kadang saat dimarahi, sianak merasa orang tuanya sudah tidak sayang lagi (jujur deh, kita semua sewaktu kecil pernah mengalami semua itu khan? bener khan..)

Sebetulnya hal tersebut dikarenakan perbedaan sudut pandang saja. sudah sifat dasar manusia, kalau tiap-tiap kita sadar atau tidak (secara individu) terkadang merasa bahwa dirinya adalah yang
paling benar, tidak pernah salah. Seringnya hanya melihat kesalahan orang lain saja. Semuanya akan berbeda jika semua manusia pandai menempatkan diri diposisi orang lain atau minimal lebih bisa berempati
terhadap orang lain.

Kembali ke buku tadi, puncak pembangkangan Miyuki saat memasuki usia remaja. memunculkan dampak psikologis yang sangat hebat, bagaimana ia menderita sakit lambung yang parah sampai harus dirawat dirumah sakit. Sementara menurut diagnosa dokter tak ada masalah apapun dilambungnya. Saat sakitnya semakin menjadi ditambah sikap ibunya yang memperparah keadaan (menurutnya). Ia ingin bunuh diri.

Semuanya semakin berubah saat ibu akhirnya menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya. Maksudnya supaya Miyuki mengerti semua alasan kenapa Ia mendidiknya dengan sangat keras. bagaimana ia ditinggalkan ibu kandungnya. Bagaimana ia harus bekerja keras saat anak-anak, sementara teman-temannya asik bermain. Juga bagaimana saat orang yang mengasuhnya satu-persatu meninggal. Bagaimana sikap ibunya yang setelah remaja bertemu, tetapi tak menggapnya anak dan sering kali ia dipaksa melayani tamu-tamu ibunya minum. Kebetulan ibunya membuka kedai minuman. Sampai akhirnya ia kabur dengan menggunakan uang yang ditabungnya diam-diam. Lantas bekerja serabutan sampai ia mempunyai restaurant sendiri. Dari sinilah dimulai sikap pengertian diantara mereka yang akhirnya membuat mereka berdua (Miyuki dan ibunya) semakin saling mendukung
satu sama lain.

Berikut sepenggal kalimat Miyuki:
“Ibu bunga Miyuki yang kau sirami setiap hari dengan cinta dan kasih sayangmu, sekarang sudah beranjak dewasa. Aku bangga mempunyai seorang ibu yang keras dan selalu tegar. Jika ibu dulu mendidikku dengan ‘lembek’. Pastilah aku tidak bisa seperti sekarang ini”

Yang patut diambil contoh adalah bagaimana cara ibunya Miyuki mengajari segala hal kepada miyuki yang buta dengan mengoptimalkan indra-indra yang lain. Seperti dengan mengajarkannya menyentuh apapun yang ingin diketahuinya, tentu dengan dibantu pendeskripsian yang detail. Sehingga ia bisa menrasakan dan mampu memenuhi
rasa keingintahuannya. Dan sikap pantang menyerah miyuki, walaupun ia buta dan dengan segala keterbatasannya. Tapi itu tak menghalanginya untuk melakukan apapun. Suatu sikap yang wajib ditiru oleh kita-kita yang sekarang tengah terpuruk krisis akibat resesi ekonomi dunia.

keep fighting and against all odds

Ditulis oleh Haris_penggiat sastra dan salah satu anggota komunitas Forum lingkar pena (FLP) Bogor


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: