Posted by: biru langit | 02/11/2009

IDEALISME DAN ROMANTISME DALAM SEBUAH NOVEL

judul buku : de winst: sebuah novel pembangkit idealisme
penulis : afifah afra
penerbit : afra publishing, indiva media kreasi
waktu terbit : januari 2008
halaman : 335;20,5 cm

de-winst

semacam apakah tatanan dunia tujuh puluh tahun yang akan datang, saat terjadi pergantian milenium? apakah peradaban akan disetir oleh kalangan yang paling kuat secara ekonomi? yang jelas, kehidupan saat ini hingga masa yang akan datang telah disketsa oleh para pemuja De winst.

renungan sekar pembayun itu dengan galau menutup 22 bab plus satu epilog sejarah karya afifah afra ini. setahun sebelum cerita dipungkas oleh sekar dipengasingan, kisah bermula dengan kedatangan rangga puruhita dari pendidikan sarjana ekobomi di Leioden, Belanda.

puylang yurididium tertinggi, cendekiaan rangga digedor oleh ketertindasan kaum pribumi. masuk sebagai bagian elite dalam sistem ekonomi kapitalisme pabrik gula, tak cukup membuat perbaikan
menjadi nyata. perjuangan dari dalam terlalu mempermainkan kesadaran akal sehatnya. hingga puncak pembelaan terhadap warga yang menuntun keadilan harga sewa tanah, rangga justru mendapat putusan pecat. pertemuan dengan eyang haji dan usahawan muslim turut menguatkannya untuk memilih jalan lain yang lebih leluasa
dan vberdampak nyata: perlawanan dengan pemberdayaan.

pematangan kesadarannya itu, sedikit banyak dipengaruhi oleh interaksi dengan kresna (misterius), pratiwi, sekar dan jatmika yang lebih dulu terlibat dalam perjuangan partai rakyat. salah satu sulut buat rangga juga ialah kehadiran sosok antagonis, Jan Thijsse yang menjadi kepala pabrik gula baru dengan kapitalisme destruktif dan mental penjajah tulen. belum lagi fakta bahwa tan thjisse ternyata suami kareen, sosok wanita belanda yang menarik hati rangga ketika sekapal dalam perjalanan pergi-pulang Indonesia-Belanda. ditambah dengan kisah tradisi kertaon yang menjerat rangga dan sekar, maka seiring itu pula kisah cinta merambatkan julur dan membelit-belit jalan cerita.

tanpa topeng kata, novel ini jelas menghadirkan tiga ideologi sekaligus: islam, kapitalisme dan sosialisme-marxisme (bukan komunisme). memang inilah ideologi yang menyemangati panggung sejarah indonesia jelang kemerdekaan-kecuali kapitalisme (dan imperialisme) sebagai musuh bersama. Soekarno dalam suluh Indonesia muda (1926) menyebutnya (plus nasionalisme) sebagai tiga sifat bagi ‘njawa pergerakan rakjat’ di indonesia dengan maksud sama: indonesia merdeka (soeripto,1962)

sayangnya novel yang terlanjur eksploratif dan mencerahkan ini belum habis-habisan dalam menguak keempat isme itu. penyebutan nama terkait ideolog(i) besar dunia pun masih terkesan cuma selayang pandang. kecuali memang, kapitalisme jelas jadi bullan-bulanan. inipun seperti tanpa pembelaan memadai, karena ideologi mendunia itu
dipersonifikasikan secara berlebih kepada moralitas seburuk tan thijsse.

kapitalisme sendiri terlembaga dalam p[abrik gula. secara ekonomi, industri ini memeang memeberi kemakmuran luar biasa kepada belanda. hanya, harapan untuk menemukan kiprah terorganisasi pergerakan muslim dalam karya novel karya peraih FLP award 2002 ini, justru masih belum cukup terpuaskan. padahal dengan lkatar belakang pabrik gula, pembaca seakan tergoda dengan ingatan sejarah perlawanan
pesantren di nusantara yang seperttinya belum cukup mengemuka. kawasan pakauman yang biasanya berdiri ‘menantang’ di dekat pabrik gula dapat menjadi indikasi awalnya.

secara keseluruhan layak diakui, de winst relatif mampu menyegarkan keragaman hal secara reflektif utamanya seputar visi kemajuan, misi kemandirian, intensi keadilan dan obsesi kesejahteraan berkerangka
keindonesiaan dan tantangan globalisme. kesemuanya benar-benar dalam atmosfer idealisme dan sesuai dengan kadarnya, juga romantisme kalau dedy mizwar sempat risau, sebab belum ada lagi film baru bertema kebangsaan di momen 100 tahun kebangkitan nasional seperti sekarang (sehingga menayang ulang nagabonar), maka dari
dunia novel, karya FLP ini seolah turut menjawab kerisauan itu. dan mungkin kerinduan kita semua.
(Zaki Faturohman, mahasiswa institut pertanian Bogor dan anggota FLP Bogor)

referensi soeripto, 1962. lahirnja undang-undang dasar 1945. Fa. penerbitan “Grip”: surabaya.

karya Zaki ini pernah dipublikasikan di sebuah media masa


Responses

  1. see Zaki blog
    http://zaki.web.id/

    or Afifah afra Blog
    http://afifahafranews.blogspot.com/2008/02/novel-terbaru-saya-de-winst.html

  2. Assalaamu’alaykum wahid, warahmatullaahi wabarakaatuh

    Di milis, jg ada resensi dari Dina (tentang buku Zero to Hero-nya Solikhin Abu Izuddin).

    Blog temen2 yg lain, ada sy kumpulkan di halaman tautan. Blogku yg ini aja (bkn yg .web.id).

    Salam

  3. wa’alaikum salam
    iya makasih ya atas infonya. resensinya Dina juga sudah saya posting

  4. Sebuah novel yg mbri sy byk pgthuan sbgai org yg trglng kurang sk sejarah.cr mympaikn sjrah ckp mdh dtrima dan menggugah nasionalisme.
    Hanya sj,ending cerita ini sy rasa terburu2 dan krg pas.
    But,so far i like it..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: