Posted by: biru langit | 02/07/2009

cerpen : ‘ruang waktu’

berikut adalah salah satu cerpen karya anggota FLP Bogor
RUANG WAKTU

oleh : Dari

Suatu sore, di sudut kota bernama Purwokerto, kota dengan ciri khas makananya yaitu kripik dan mendoan. Tak sengaja, aku bertemu sahabat lama. Yang berpisah sejak tujuh tahun lalu setamat SMA. Dia yang menyapaku lebih dulu saat berpapasan jalan. Ada yang berubah dengan penampilannya. Rambutnya panjang.

Atas desakannya aku mampir ke rumahnya. Seperti reuni kecil. Kami bernostalgia, berdua bermain gitar sampai larut malam. Cerita yang terhalang bertahun-tahun muncul lagi dalam ingatan, seperti kejadian yang baru dialami. Setelah bernostalgia, dia mulai bercerita.

“Adit pernah merasa bahwa Tuhan itu tidak adil.” dia mengawali ceritanya. Seperti dulu, dia lebih suka menyebutkan namanya sendiri daripada ‘aku’ atau ‘saya’.

“Buat Adit, hidup ini terlalu pahit. Selepas SMA begitu banyak tragedi yang menimpa. Tak sedikit pun waktu yang bisa Adit nikmati. Kau tahu kan Dani, musik adalah bagian dari hidup Adit?” sambil memetik gitarnya, dia mengajukan pertanyaan retoris. Aku mengangguk. Kuputuskan untuk menjadi pendengar yang baik. Meski berbagai masalah ingin kuceritakan juga padanya.

“Ayah melarang untuk bermain musik. Ayah ingin Adit mengikuti jejaknya. Jadi seroang pengusaha yang sukses. Tapi mama lebih membela Adit yang tetap kukuh bergelut di dunia musik. Hal inilah yang memicu pertengkaran mereka. Hampir setiap hari. Tak ada ruang waktu untuk sekedar bercanda atau bercengkrama. Apalagi setelah ketahuan kalau ayah menikah lagi.” matanya menerawang mengingat kejadian beberapa tahun silam, sebelum kemudian melanjutkan lagi ceritanya.

“Akhirnya ayah memutuskan untuk menceraikan mama. Semua harta dan perusahaan diambil alih ayah. Mama hanya pasrah kemudian pindah ke kota ini dengan memulai usaha baru yaitu membuka restoran. Tapi buat Adit, kepergian ayah justru membuat Adit merasa bebas untuk bermain musik. Karena tak ada lagi yang menghalangi. Namun tak lama, musibah dating lagi usaha yang mama kelola mengalami bangkrut. Akhirnya mama jatuh sakit, dan lima bulan yang lalu mama meninggalkan Adit untuk selamanya.”

Diam sejenak. Lalu mulai lagi dia memetik gitarnya. Memainkan sebuah komposisi yang baru kali ini kudengar. Awalnya terdengar janggal. Perlahan komposisi yang dimainkannya itu menghadirkan suasana sendiri. Bunyi petikannya bagus, akurat, nyaris tidak tersendat-sendat. Adit sedang mengekspresikan suasana. Dia bercerita banyak lewat petikan gitar dalam komposisinya sendiri. Suasana yang kutangkap saat itu adalah sepi. Ya, “Lonelyness”. Tapi ada ketegaran. Sikap tak mau menyerah dalam suasana sepi yang terkadang bisa sangat mencekam. Aku baru menyadari bahwa di rumah ini tak ada siapa-siapa lagi selain aku dan Adit.

Komposisi berakhir. Terdengar dia menarik nafas. Hembusannya serasa memadu dengan komposisi yang baru saja selesai dimainkannya. Akhir cerita dalam komposisi itu melelahkan. Aku tahu itu adalah cermin dari hidupnya

“Kau berhasil melewati semua itu?”

“Awalnya tidak, bahkan kepergian mama sempat membuat Adit nyaris bunuh diri. Adit sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah yang sudah tidak menganggap Adit sebagai anak lagi. Saat itu Adit merasa kalut. Namun ternyata masih ada orang yang peduli dengan Adit. Kamu masih ingat dengan Diaz?”

“Tentu saja,aku tak akan lupa dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang?” Aku tersenyum penasaran. Membayangkan musuh bebuyutanku semasa SMA. Diaz, terkenal dengan julukan preman sekolah karena segala hal yang berbau negatif menempel padanya.

“Saat Adit ingin mengakhiri hidup. Dia datang ke sini. Tadinya Adit tidak percaya. Penampilannya berubah total. Dia seperti ustad muda. Di saat-saat Adit tak punya pegangan. Dia datang di waktu yang tepat. Saat itu dia memberikan banyak pencerahan. Satu hal yang Adit takkan lupa. Dia bilang; manusia dan masalah itu seperti pantai dengan air laut. Setiap hari, setiap saat, riak gelombang air laut akan selalu menyambangi pantai. Namun sang pantai tak sekalipun lari meninggalkannya. Dia biarkan air laut itu menghampirinya lalu meninggalkan buihnya. Seperti juga kita. Janganlah lari dari setiap masalah. Sekecil apapun masalah itu pasti akan ada hikmahnya.”

“Kau yakin dengan kata-katanya itu?”

Agak lama ia terdiam, sebelum mulai lagi bercerita mengisahkan perjalanannya.

“Adit sadar, apa yang dikatakannya itu benar. Hanya saja Adit butuh sebuah ruang waktu untuk dapat melupakan semua kenyataan pahit. Butuh proses untuk memulainya dari awal. Sejak saat itu Diaz sering datang ke sini, memberi semangat hidup dan dukungan moral.”

“Dan sekarang kau mendapatkan apa yang kau cari?”

Dia tersenyum, jari-jari tangannya memetik snar gitar membentuk kunci G, sambil mencari not-not kemudian memadu nada.

“Mungkin, tapi belum sempurna. Yang pasti saat ini Adit ingin terus mewujudkan impian mama, meneruskan usahanya yang sempat terhenti. Meski Adit tidak begitu menguasai, tapi ada Diaz yang selalu siap membantu. Dan tentu saja Adit akan tetap bermain musik.”

Tak bisa kusembunyikan kekagumanku padanya. Dengan tegarnya dia berhasil melewati masa-masa sulit. Jalan hidupnya jelas beda denganku. Bahkan masalah yang ia hadapi lebih besar. Mungkin apa yang dikatakannya benar, perlu proses untuk berubah. Butuh sebuah ruang dan waktu untuk memulai semuanya.

Aku tercenung. Melihat diri sendiri. Masalah yang kuhadapi sekarang hanyalah bagian kecil dari hidupku. Bukankah tujuan utamaku datang ke kota ini jusru dalam rangka untuk menghindari masalah? Selain aku juga ingin mengunjungi nenek. Aku marah dan kecewa. Aku tak bisa menerima kenyataan, bahwa perempuan yang selama ini aku panggil mama ternyata bukan orang yang melahirkanku. Aku hanyalah anak pungut yang diambil dari panti asuhan ketika umurku belum lagi sebulan. Orang tua kandungku sendiri tak ada yang tahu keberadaannya. Entah masih hidup atau sudah meninggal. Iulah kenyataannya.

Setelah pertemuan itu kebekuanku mencair. Aku mulai bisa menerima kenyataan. Kusempatkan untuk bertemu Diaz di sebuah restoran milik Adit. Diaz bercerita banyak tentang kehidupan ini.

“Kau tahu Dani, hidup adalah sebuah perjalanan singkat untuk menuju sebuah keabadian. Dan kita musafir. Jadi sayang kalau hidup yang sangat singkat ini tidak kita gunakan sebaik-baiknya. Adapun berbagai masalah yang dihadapi itu merupakan warna-warni kehidupan. Ibarat pelangi tak akan indah kalau hanya punya satu warna. Dan untuk menghadapi itu semua, kita hanya punya satu kata yaitu ikhlas. Ikhlas menerima segala hal yang Allah berikan untuk kita. Mungkin kau akan mencemooh kata-kataku ini, karena kau tahu, seperti apa aku dulu. Tapi percayalah, semua orang bisa berubah, termasuk aku. Mungkin aku tak lebih baik dari kamu, tapi selama ini aku selalu berusaha untuk mendapatkan kebaikan itu.”

Aku takjub mendengar kalimat-kalimatnya yang ringan mengalir. Hatiku mulai sejuk. Kalau dulu dia adalah ‘musuhku’. Kini aku percaya dengannya. Ingin rasanya terus mendengar kalimat-kalimat selanjutnya.

“Tak ada satupun manusia di dunia ini yang tak punya masalah. Kalau ingin tak punya masalah ya lebih baik tak usah hidup. Mati saja.” Ujarnya sambil tertawa. Suasana yang hadir menjadi terasa akrab.

Di sampingku, duduk Adit memetik gitarnya sambil melantunkan satu tembang milik Iwan Fals. Ibu. Tiba-tiba aku mulai merindukan ibuku.


Responses

  1. mau baca karya-karya Dari yang lainnya
    di http://www.azura.blogsome.com

  2. di blog ini saya sudah lama tidak aktif menulis, lebih aktif di http://www.dariazura.blogspot.com

  3. di blog ini saya sudah tidak aktif menulis.

  4. sorry for update blognya dari di http://www.dariazura.blogspot.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: