Posted by: biru langit | 01/18/2009

bedah buku ‘laskar pelangi: the phenomenon’

the-phenomenon

judul : laskar pelangi : the phenomenon

penulis: Asrori S. Karni

penerbit: Hikmah

cetakan: 1, september 2008

tebal : 263 halaman

Siapa sich yang tidak kenal dengan laskar pelangi. Tetralogi karya andrea Hirata yang saking fenomenalnya sudah terjual lebih dari satu juta eksemplar. Dan filmnya sudah ditonton sebanyak 2,4 juta orang.

Dalam  buku ini, Asrori yang juga adalah seorang jurnalis. Cukup berhasil mengupas besarnya pengaruh tetralogi laskar pelangi terhadap pembacanya dalam kisah-kisah yang cukup menyentuh. Bahkan mungkin kisah-kisah tersebut menginspirasi lebih banyak orang lagi. Bagaimana orang yang sudah terpuruk mendadak semangatnya bangkit kembali setelah membaca laskar pelangi. Atau membuat pembacanya menjadi lebih tabah, sebab  mereka tersadar bahwa selain mereka ada orang lain yang memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih parah dari yang dialaminya.

Tak hanya disitu saja, jurnalis peraih Mochtar Lubis Award 2008 ini juga mengulas proses kreatif Andrea Hirata dalam menciptakan karyanya yang fenomenal. Dalam satu paragraf disebutkan. Saking ajaibnya kecepatan menulis Andrea, dikatakan Andrea menulis dalam keadaan trance, alias diluar kesadaran.

Saya kebetulan datang terlambat dan bahasan saat itu sedang mengulas multiple intellegence. Multiple intellegence adalah satu paradigma yang diperkenalkan Dr. Howard Gardner, seorang profesor Universitas Havard tahun 1983. Dan baru dipopulerkan di Indonesia sekitar sepuluh tahunan terakhir. Ternyata hal itu sudah diterapkan oleh Bu Muslimah (Ibu gurunya laskar pelangi) pada tahun 1970an.

Mendadak saya menjadi sedikit gimana gitu… (maaf agak sedikit curhat)

Teringat saat jaman sekolah dulu. Adanya anggapan kalau anak yang pintar hanyalah anak yang nilai eksaktanya tinggi, entah matematikanya min 9 atau fisikanya 8. Yang jelas saya dulu bukan dianggap termasuk anak yang pintar. Selain nilai-nilai eksakta saya yang tidak menonjol. Juga karena seringnya saya ditegur saat belajar dikelas. yang katanya saya tidak memperhatikan, karena terlalu sering melihat ke jendela atau dianggap mengajukan banyak pertanyaan yang nge-tes guru. Itu semua hanya karena rasa keingintahuan saya yang rasanya tak terbendung.

Mata saya sedikit berair saat diulas mengenai cara Bu Mus memberikan pelajaran kepada Harun (salah satu anggota laskar pelangi yang memiliki keterbelakangan mental). Walaupun harun salah menjawab pertanyaan tapi tetap diberikan acungan jempol.

Sangat jauh berbeda dengan pengalaman saya dulu. Jujur sebelumnya saya belum pernah cerita kepada siapapun. Bahkan pada orang tua saya sendiri. Dulu saya melakukan sesuatu kekeliruan. Ada perilaku saya yang salah (kebetulan saya tidak mengerti saat itu kalau perilaku saya itu harus diperbaiki). Dua ibu guru saya saat dibangku SLTP, bukannya memberitahu saya baik-baik bagaimana sebaiknya saya. Tapi malahan memberitahukan dengan sengaja hal tersebut pada saat jam pelajaran (saya hadir pada saat itu, gak kebayang deh merahnya kuping saya. Ingin rasanya kabur dari kelas). Bahkan kebetulan salah satunya mengajar bahasa Indonesia menjadikan hal tersebut (perilaku saya) contoh dalam membuat kalimat. Belum lagi himbauan agar tidak usah berteman dengan orang seperti itu.(seperti saya maksudnya)

Yang jelas peristiwa tersebut gak gampang dilupakan. Tapi saya pribadi sudah memaafkan beliau-beliau. Mungkin sikap-sikap mereka itu lebih dikarenakan tidak adanya role model seperti Bu Mus..

aduh mendadak speechless neh…..

Maaf bahasannya jadi melebar kemana-mana. Udah deh yang jelas baca aja bukunya nggak bakalan rugi dijamin. Selain pelengkap koleksi laskar pelangi juga menambah perbendaharaan  sastra kita. Buku ini juga semakin memperkuat isi dan pesan yang dibawa Andrea Hirata melalui tetralogi laskar pelangi. Dan seperti yang Asrori tulis di samping tandatangannya (diakhir sesi bedah buku). Semoga buku ini semakin menginspirasi pembacanya.

Two thumb up for this book!…

11012009002

Thank’s buat ‘Komunitas mengikat makna’ penyelenggara bedah buku, semoga semakin sukses

Walaupun diakhir acara ada oknum peserta yang tidak bertanggung jawab yang telah mencuri laptop milik panitia.

Jangan kapok untuk mengadakan kegiatan serupa yang lebih meriah

ditulis oleh Haris_penggiat sastra dan salah satu anggota FLP Bogor


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: