dalam rangka menyebarluaskan info……..
LOMBA KISAH KASIH IBU
Word Smart Center dan Penerbit Mizan

mother and son02

Kasih ibu
kepada beta
tak terhingga
sepanjang masa

hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya
menyinari dunia

* * *

“…dengan setinggi-tingginja budi dan semulia-mulianja tenaga mendjalankan kewadjiban “keperempuanannja” mendidik putera-puteranja, dengan keinsjafan dan keridlaan-niat jang tertentu, sebenarnja mendidik putera-puteranja natie:–Hendaklah mereka terutama terhadap pada kewajiban keperempuannja mendidik anak-anaknja, dengan insjaf seinsjaf-insjafnja, bahwa selamat-tjelakanja bangsa sebenar-benarnja adalah di dalam genggaman mereka itu. Hendaklah mereka oleh karenanja, semuanya bertabiat sebagai ibu jang besar….” (Kongres Kaum Ibu –”suluh Indonesia Muda”, 1928– dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, Ir. Soekarno [1959])

* * *

Lebih dari 75 negara di belahan dunia, seperti Amerika, Kanada, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Singapura, Australia dan seterus, merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei untuk mengenang aktivis sosial Julia Ward Howe (1870) mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara. Beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu diperingati setiap bulan Maret untuk memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani Kuno. Sedangkan di Indonesia berdasarkan keputusan Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938 dan dikukuh oleh Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Indonesia untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa.

Sebagai seorang anak, kita berkewajiban agar ibu kita selalu berbahagia. Kita merayakan mereka, bukan karena sebagaimana termaktub di atas. Bukan karena mereka berani mengangkat senjata seperti Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Bukan karena mereka bangkit memperjuangkan hak-hak perempuan seperti yang dilakukan oleh Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Bukan pula karena mereka menjadi pemimpin bangsa sebagaimana dilakukan oleh Maria Ulfah yang menjadi menteri wanita pertama kali tahun 1950.

Kita persembahkan Hari Ibu/Mother’s Day karena selama sembilan bulan kita bersemayam dalam rahim ibu kita; karena mereka berteriak dan berdarah-darah saat melahirkan ke dunia ini; karena mereka selama dua tahun memberi kita ASI penuh dengan kesulitan dan kurang tidur; karena mereka mengantarkan kita ke masa balita penuh dengan rasa cemas; karena mereka menyekolahkan kita dengan banting tulang dan rintihan do’a, karena mereka membimbing kita akan mendapatkan pekerjaan; dan karena tetap menyanyangi kita hingga akhir hayat.

Yang paling utama adalah, kita melakukannya, karena perintah Allah Swt: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. . Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa[17] : 23) Dan tentu saja untuk berbuat baik itu tidak harus menunggu tanggal 22 Desember setiap tahun sekali, melainkan tiap hari, bahkan tiap detak jantung kita.

Dan salah satu cara kita berbuat baik terhadap mereka adalah mengabadikan kasih sayang mereka itu dalam bentuk tulisan. Sebab, dengan menuliskan perjuangan mereka membesarkan kita, kejujuran mereka dalam menasehati kita, kedisiplinan dan keadilan mereka dalam membentuk karakter kita, dan masih banyak prinsip-prinsip atau pun nilai-nilai yang mereka berikan kepada kita, merupakan sebuah sarana agar mereka menjadi buah tutur yang baik sebagaimana Nabi Ibarahim Alaihis salam pinta: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 84)

Oleh sebab itu, WORD SMART CENTER sebagai komunitas dunia kepenulisan dan perbukuan –bervisi Menuju Indonesia Mulia, Cerdas, Mandiri, dan Kreatif– bekerjasama dengan Penerbit Mizan menyelenggarakan acara LOMBA KISAH KASIH IBU sebagai kado cinta kepada kaum ibu.

T E M A

Lomba ini bertemakan:

“Kasih Ibu Sepanjang Masa, Selalu Memberi Tak Harap Kembali”

K A T A G O R I L O M B A

Katagori lomba adalah nonfiksi dalam bentuk esai, memoar, biografi singkat, atau tulisan seperti dalam buku Chicken Soup.

K R I T E R I A C E R I T A dan I S I T U L I S A N

1. Cerita harus berdasarkan kisah nyata (real story) atau berdasarkan fakta dan bisa dipertanggungjawabk an kebenarannya, baik dialami oleh penulis sendiri, atau orang lain;
2. Isi cerita tidak boleh melanggar SARA, bernuansa pornografi, atau bertentangan dengan prinsip dan nilai kebenaran;
3. Cerita atau isi tulisan harus memberikan motivasi, inspirasi, dan pelajaran berharga bagi para pembaca.

K R I T E R I A N A S K A H

1. Berupa naskah tertulis dan disajikan secara sistimatis, sinkron, dan tuntas (tidak bersambung);
2. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
3. Naskah belum pernah diikutkan dalam lomba menulis, tidak sedang diikutkan dalam lomba menulis lainnya, atau disertakan dalam pembuatan buku antologi;
4. Naskah asli (karya sendiri) dan belum pernah diterbitkan dan atau dipublikasikan di media massa;
5. Naskah lomba minimal 5 halaman dan maksimal 15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
6. Menyertakan biodata singkat atau identitas lengkap (file terpisah dari naskah lomba), meliputi: nama lengkap, TTL, pendidikan, alamat lengkap, nomor telepon/HP, email, no. rekening, plus fotokopi/scan (dengan resolusi secukupnya, tidak perlu terlalu tinggi/besar) kartu identitas diri (KTP/Pasport/ SIM/dsb).
7. Bersedia menerima sangsi hukum apabila naskah terbukti hasil plagiasi dan atau terjemahan.

P E N G I R I M A N N A S K A H

- Naskah diterima panitia paling lambat tanggal 10 Desember 2009;
- Naskah diberikan dalam bentuk soft copy (file) yang dikirim ke e-mail kisahkasihibu@ yahoo.com dan dicckan ke wordsmartcenter@ gmail.com;
- Semua naskah tidak dikembalikan dan menjadi hak milik panitia.

K R I T E R I A P E S E R T A

1. Peserta lomba terdiri atas pelajar, mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga, dan masyarakat umum WNI (tanpa batasan usia), baik berdomisili di Indonesia maupun di luar negeri;
2. Setiap peserta boleh mengirim lebih dari satu naskah, sebanyak-banyaknya tanpa batas;
3. Peserta bukan tim penilai/juri;
4. Panitia lomba boleh mengikuti lomba;
5. Peserta terdaftar sebagai member milis wordsmartcenter@ yahoogroups. com (bagi yang belum terdaftar silahkan mendaftarkan diri ke alamat ini: http://groups. yahoo.com/ group/wordsmartc enter/, atau mengirim e-mail kosong ke: wordsmartcenter- subcribe@ yahoogroups. com atau wordsmartcenter@ yahoo.com)

P E N G U M U M A N P E M E N A NG

- Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 22 Desember 2009 bertepatan dengan HARI IBU (Mother’s Day) di milis wordsmartcenter@ yahoogroups. com.
- Pemenang akan dihubungi panitia lewat e-mail/SMS untuk menerima hadiah.

H A D I A H

- Juara pertama sebesar USD 200 (Dua ratus Dolar Amerika)
- Juara kedua sebesar USD 150 (Seratus Lima Puluh Dolar Amerika)
- Juara ketiga sebesar USD 100 (Seratus Dolar Amerika)
- 3 juara harapan mendapatkan paket hadiah buku senilai Rp. 200.000,- dari Penerbit Mizan.
- 4 juara hiburan mendapatkan hadiah buku senilai Rp. 100.000,- dari Penerbit Mizan.
- Biaya pengiriman hadiah untuk juara I, II, dan III ditanggung oleh para pemenang.

H A K C I P T A

- Hak cipta ada pada penulis naskah;
- Hak terbit ada pada Word Smart Center untuk satu kali penerbitan;
- Royalti akan dihibahkan untuk kegiatan dan program Word Smart Center;
- Setiapkali buku terbit para penulis akan mendapatkan 3 eksemplar dari penerbit.

Didukung oleh:
www.radioppidunia. com dan www.matadunia. com

Keterangan lebih lanjut hubungi:
Udo Yamin Majdi (+20108158391) atau Rashid Satari (+20100120381) atau kirim e-mail ke: kisahkasihibu@ yahoo.com

Posted by: biru langit | 11/02/2009

BERJUANG KERAS…

Mendapat beasiswa berupa pelatihan menulis karya terobosan ternyata tak selamanya menyenangkan. memang saat pertama kali mendapat kabar tersebut. kembang api serasa membuncah dalam dada.

AG00281_

sekarang setelah pelatihan lewat berbulan-bulan kemudian kok semuanya seperti lewat begitu saja. selain tenggelam dalam kesibukkan masing-masing. konsep novel yang diajukan dan di-acc oleh mentor-mentor ternama dari salamadani dan FLP Jawa Barat belum juga terealisasikan.mengumpulkan data untuk menutup lubang cerita ternyata juga nggak gampang. kalau pun datanya sudah ketemu. proses menuangkannya dalam tulisan juga menjadi tantangan lain lagi. maklum penulis pemula. halah…

setelah kemarin alhamdulillah sudah mengirimkan naskah mentah (walaupun cuma satu bab setengah). dan sampai sekarang kok belum ada jawaban ya. tapi positife feeling aja. mungkin saja ini karena terlalu banyak penulis -penulis pemula selain peserta KMKT yang mengirimkan naskahnya. seperti yang di terangkan mas Ali disalah satu sesi pelatihan. banyak sekali naskah datang ke penerbit yang harus dipilah.

sebetulnya naskah mentah itu hanya contoh tulisan saya. apakah sudah layak atau belum. sebab sebelumnya saya mencoba menulis di posisi penulis segala tahu a.k.a. sudut pandang orang ketiga. tapi susahnya minta ampun. karena saya masih kekurangan data. akhirnya saya memilih menulis dengan mengambil sudut pandang orang pertama. dengan harapan, si tokoh hanya tahu apa yang sedang terjadi dan dia alami saja. iyakan..betulkan… :-d (cari amannya gitu)

oke buat para peserta KMKT Salamadani keep fight frenz…..

Posted by: biru langit | 10/29/2009

TEMPAT PERTEMUAN FLP BOGOR PINDAH!

pertemuan tanggal 25 kemarin benar-benar yahud. acaranya benar-benar interakitif. sayangnya letaknya semakin jauh dari tempat bermukimku sekarang di Cikarang. peserta saling memperkenalkan diri dan terlihat sangat antusias. wajah puas menghiasi mereka disaat pertemuan berakhir.
begitu juga kak KOKO dan Mas Deny.

selain ada banyak kejutan juga alhamdulillah semuanya berjalan lancar. oh iya ada indo tambahan. dimulai pertemuan ahad kemarin. jadinya pertemuan rutin FLP dipindah ke al Ghifari- IPB Bogor. oke teman-teman selamat bergabung dan sama-sama berjuang di FLP Bogor.

Posted by: biru langit | 10/29/2009

Kenapa Orang Berjalan Cepat di Jepang?

sebuah catatan perjalanan Mbak erma Yulihastin di Hirosaki – Jepang.
Filosofi Jalan Cepat di Jepang

Setelah lebih dari dua minggu berada di Jepang, saya jadi terbiasa dengan jalan cepat ala Jepang. Bagaimanakah berjalan cepat ala Jepang itu? Begini kawan, berjalanlah dengan ritme cepat diimbangi tubuh yang terlonjak-lonjak bagai orang kena kejut listrik maka engkau telah melakukan jalan cepat ala Jepang yang kumaksud.

Kebiasaan ini tentunya tidak mudah begitu saja aku ikuti. Awalnya, caraku berjalan pelan saja tanpa beban –persis seperti umumnya cara orang Indonesia berjalan. Dengan cara pelan seperti ini tentu saja aku menghabiskan banyak waktu dalam menempuh perjalanan dari apartemen ke kampus.

Padahal kata Sensei, “Erma San, Anda hanya membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki dari apartemen ke kampus.” Nyatanya selama aku di Jepang, rata-rata aku membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di kampus. Cuma sekali saja, aku pernah mencapai rekor 11 menit, itu pun diakhiri dengan napas yang ngos-ngosan sesudahnya. Hehe…

Namun kemudian saya memahami bahwa jalan cepat ala Jepang ini memiliki setidaknya satu alasan kuat yang melatarbelakanginya . Yakni, upaya untuk melawan dingin. Suhu udara yang sangat dingin di Jepang harus diimbangi dengan gerakan tubuh yang memadai untuk menjaga tubuh tetap hangat dan nyaman, selain tentunya dengan mantel tebal, sarung tangan, slayer, penutup kepala, dan sejenisnya.

Terasa sekali bedanya, saat aku berjalan lenggang kangkung bak orang Jawa berjalan dan berjalan ala Jepang. Inilah yang membuatku akhirnya memutuskan alangkah lebih baik jika aku mengadaptasi cara mereka berjalan. Lebih cepat sampai, lebih baik. Supaya lebih cepat berada di dalam ruangan yang hangat dan nyaman. Supaya tidak berlama-lama terperangkap dinginnya udara yang menggigit.

Filosofi lainnya, kupikir karena mereka adalah bangsa yang memiliki kultur sangat menghargai waktu. Mereka tak mau membuang-buang waktu di jalanan, tanpa aktivitas positif yang lebih bermanfaat daripada sekadar berjalan kaki.

Kedua, kebiasaan orang Jepang tampaknya suka bekerja keras. Seolah-olah, mereka mendapatkan kepuasan dengan kerja keras itu. Kerja keras ini tampak dari begitu banyak orang yang naik sepeda dan berjalan kaki kemana pun. Bahkan dengan jarak yang berpuluh kilometer pun, mereka bersepeda. Seperti Izmi, rumahnya di dekat Stasiun dengan jarak lebih dari 10 kilometer ke kampus, dan dia lebih memilih naik sepeda daripada naik bus.

Padahal bus sangat mudah diperoleh, tersedia tiap 15 menit sekali, ada jadwal yang mengaturnya sangat jelas, dan bus-bus itu berhenti di halte yang telah ditentukan tepat waktu. Tapi anehnya, percaya atau tidak, bus-bus itu hanya dipenuhi oleh orang-orang renta dan lanjut usia. Aku sudah melihatnya sendiri setelah lebih dari enam kali naik bus di Hirosaki.

Oh ya, di Jepang (Hirosaki), hampir tidak ada sepeda motor yang berkeliaran di jalan raya. Bahkan, saking terkenalnya sepeda ontel, rambu-rambu lalu-lintas untuk sepeda saja dibuat, tapi tidak ada untuk sepeda motor. Bandingkan dengan Bandung! Rasanya untuk menempuh jarak dua kilometer saja orang-orang (tak peduli masih muda, kuat, segar, bugar) lebih suka naik angkot atau sepeda motor daripada jalan kaki. Jalan raya di Bandung pun penuh sesak dengan pengendara sepeda motor.

japan

Hirosaki 29 Oktober 2009

tantangan ini diberikan oleh mas Ali Muakhir. seorang penulis senior dan editor salamadani menantang bagi siapa saja yang punya novel humor? kayak “Suster Nengok”, “Hantu Jeruk Nipis”, or “Tuilet”? Cuma 100-120 hlm HVS ketik 1.5spasi font time new roman 12. yang jelas sih temanya bebas apa aja. asal cocok buat remaja tidak berbau sara dan porno, syukur-syukur bermanfaat. Klo ada kirim ke a_muakhir@yahoo.com.
ali muakhir
jangan lupa sertakan biodata lengkap dan tulisannya pake id: novel gokil by… (nama penulis)
naskah yang masuk akan direview dulu oleh mas ali. dan apabila dinyatakan layak untuk diterbitkan. penulisnya akan dihubungi.
segera kirimkan karyamu ya….

Posted by: biru langit | 10/16/2009

MENULIS DENGAN INSPIRASI HATI

AYO.. AYO… IKUTAN WORKSHOP KEPENULISAN BARENG FLP BOGOR

Pamflet_Workshop_Kepenulisan_FLP_Bogor

Posted by: biru langit | 10/12/2009

Bagaimana Mengkritik Sebuah Karya Novel? Part I

Oleh : Miftahur Rahman el-Banjary

(Cerpenis, Kandidat Master Univ. Dual Arabiyyah)

Sasaran: Krtikus Sastra & Pencinta Sastra

kritik

Banyak orang lebih tertarik menjadi penikmat sastra, daripada menjadi kritikus sastra, sebagaimana banyaknya orang yang menyukai novel, ketimbang menjadi kritikus novel itu sendiri. Memang, menjadi seorang penulis novel dan sekaligus menjadi kritikusnya bukanlah hal yang mudah. Keduanya diperlukan pengalaman, sekaligus pengetahuan teoritis yang mendalam, khususnya di bidang dunia sastra. Dan jika saat ini Anda hanya sebagai penikmat sastra, maka tidak ada salahnya sekarang Anda beranjak menjadi seorang kritikus sastra.

Di sini penulis ingin berbagi pengetahuan kepada rekan-rekan pecinta sastra tentang bagaimana menilai sebuah karya novel yang berkualitas, sekedar pengetahuan yang penulis dapatkan dari mata kuliah Prof. Dr. Nabilah Ibrahim, seorang dosen pakar “Adab Rawai” (Sastra Novel) di Prog. S.2 Fak. Sastra di Universitas Dual Arabiyyah, Cairo-Egypt.

Perlu dipahami bahwa kritikus sastra bukanlah orang yang mencari-mencari kekurangan dalam karya orang lain. Itu pemahaman yang keliru! Kritik bertujuan untuk mempelajari kelebihan sebuah karya sastra untuk dipertahankan kelebihannya, dan mempelajari kekurangan-kekurang anya untuk selanjutnya diperbaiki dan dikoreksi agar kesalahan tersebut tidak terulang lagi.

Menulis novel atau cerita tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak waktu, stamina, pengalaman, dan imajinasi ‘liar’ yang diperlukan. Sebuah novel mencakup dimensi sosial, psikoligi, antropologi, dan demensi-demensi lainnya dalam kehidupan manusia. Seorang penulis novel dituntut mampu menggerakkan alam sekitarnya, memerankan penokohan sesuai dengan karakternya, memasukkan intrik-intrik pertikaian yang rumit, menempatkan klimaks yang tepat, dan memberikan solving problem terhadap permasalahan di dalamnya. Jadi, novel layaknya memutar kembali sebuah perjalanan hidup manusia dengan kekuatan kata-kata. Inilah yang kemudian membedakan antara novel dengan puisi, atau antara seorang novelis dengan pujangga. Puisi hanya menjelmakan alam sekitar dan kehidupan manusia dengan rangkaian kata-kata yang diperindah, sehingga jelaslah bahwa mengkritik sebuah puisi jauh lebih mudah dibandingkan dengan sebuah novel.

Untuk mengkritik sebuah novel, apakah berkualitas atau tidak, tidak cukup diserahkan sepenuhnya kepada para pembaca dan penikmat sastra. Para kritikus sastra mempunyai kode etik standar untuk menilai sebuah kualitas sebuah karya sastra. Paling tidak disini penulis sebutkan ada lima kriteria dasar yang menempatkan karya novel layak dikatakan berkualitas. Kriteria tersebut dikemas dalam bentuk pertanyaan-pertanya an yang harus dijawab sendiri oleh analisis para kritikus tersebut.

Pertama: Apa motivasi novelis dalam menuliskan karyanya?

Motivasi tersebut terkadang dituliskan oleh novelis secara eksplisit, terkadang juga secara implisit dalam ceritanya. Motivasi inilah yang kelak menjadi pesan utama yang ingin ditranformasikan si novelis kepada para pembacanya. Pertanyaan ini setidaknya memberikan gambaran yang jelas kepada para pembaca tentang apa tujuan dan maksud yang diinginkan oleh novelis di dalam novelnya. Apakah tujuan novel itu sebagai kritik sosial, pembangkit motivasi, mengajak berpetualang, menggali sejarah, melibatkan pembaca dalam intrik-intrik dan tragedi percintaan? Dan pertanyaan-pertanya an lain semisalnya.

Selanjutnya pertanyaan yang tak kalah pentingnya adalah, apakah novelis tersebut mempunyai hubungan pengalaman langsung dengan dunia yang berkenaan dengan novel yang ditulisnya? Sebagai contoh, novel Arab karya Abdurrahman as-Syarqawi yang berjudul al-Ardh (Bumi); kisah yang bercerita tentang kehidupan komunitas para petani desa di Mesir yang bertikai dengan pemerintah kota dan kalangan borjouis di desa itu, dianggap telah berhasil menggambarkan seluk-beluk kehidupan yang sesungguhnya secara detail, karena penulisnya memang benar-benar pernah hidup dilingkungan tersebut dan bergaul langsung dengan komunitasnya, sehingga permasalahan yang diangkat pun mengena dan ceritanya benar-benar hidup.

Sangat berbeda dengan karya novel yang ditulis oleh Najeeb Kailany yang menulis novel “Gadis Jakarta”. Karyanya dianggap belum memenuhi kriteria standar sebuah karya yang berkuliatas, disebabkan penulisnya sendiri belum pernah observasi ke tempat yang ia tulis di novelnya. Dengan demikian, para krtikus sasta menolak keberhasilan dalam karyanya tersebut.

Kedua : Apakah novelis itu berhasil membangun karakter penokohan?

Sebagaimana yang saya kemukan diatas, bahwa ada perbedaan mendasar antara novelis dan pujangga, kendatipun keduanya adalah pekerja dalam dunia sastra. Menulis novel juga tidak bisa disamakan dengan menulis puisi, artikel, essay, kolom, opini, khutbah, dan sejenisnya.

Di dalam sebuah novel jelas harus ada penokohan yang harus dimainkan oleh penulisnya. Sebuah novel dapat dianalogikan sebuah pertunjukan wayang kulit. Novelis sebagai dalangnya alias sutradanya, sekaligus berperan dalam banyak pemeran penokohan. Dengan demikian, seorang novelis benar-benar dituntut mampu memerankan tokoh-tokoh yang dimainkannya sesuai dengan karakternya masing-masing. Sebagai contoh, tokoh yang protagonis, tentunya tidak akan mungkin tertukar dengan karakter antagonis, dan begitupula sebaliknya. Jika penulis mampu memainkan penokohan secara tepat, maka penulis tersebut, dianggap telah berhasil membangun karakter penokohan dalam sebuah karyanya.

Ketiga: Apakah sebuah novel itu memenuhi demensi estetika?

Perlu diingat bahwa sebuah karya sastra, khsusunya novel adalah karya transparan. Dalam pengertian sederhana, sebuah karya novel harus benar-benar dapat dipahami secara jelas oleh para pembaca, baik itu alur ceritanya, pesan yang ingin disampaikan, maupun istilah dan kata-kata yang digunakan. Namun, bukan berarti karya novel meninggalkan demensi-demensi keindahan gaya bahasanya.

Ada banyak fonemena dimana para novelis terjebak kepada tuntutan sebuah estetika, sehinga terkesan memaksakan penggunaan diksi kata dan metaphora, dan asyik dengan bermain-main dengan kata-kata yang mendayu-dayu. Konsekuensi logisnya adalah tidak jelas arah ceritanya, pesan utamanya menjadi kabur, dan pembacanya pun dibuat kebingungan. Dan tentunya fonemena semacam inilah yang kemudian menghambat perkembangan sastra untuk lebih maju dan memasyarakat.

Berkenaan dengan gaya bahasa dalam sebuah novel, penulis berpendapt bahwa seorang novelis tidaklah selamanya dituntut mampu merangkai kata-kata nan puitis demi memenuhi tuntutan estetika tersebut. Bahasa sastra tidak harus merangkai lilitan-lilitan kata-kata yang indah, namun memusingkan kepala untuk memahaminya dan hampa dari esensi filosofi. Namun, sastra adalah bahasa yang indah dan mudah dipahami.. Dan sekali lagi, novel bukanlah karya puisi.

Dan dalam satu kesempatan acara “Menulis bersama Habiburrahman el-Shirazi” di Cairo, pada tahun 2008 yang lalu. Penulis sempat menanyakan kepada Kang Abik tentang gaya bahasa yang digunakan dalam karya-karyanya yang terkesan sangat sederhana, sehingga tidak tampak nilai-nilai estetikanya. Tentunya sangat jauh berbeda sekali lagi dengan karya-karya Nuruddin al-Jamie dalam roman “Yusuf dan Zulaikha, atau sekelas karya Nizami dengan Laila Majnun yang sangat sarat sekali dengan gaya bahasa alegoris nan indah dan mendayu-dayu. Dan beliau menjawab: “Di dalam kata-kata sederahana itulah letak karya sastra sesungguhnya. ” Dan beliau tambahkan bahwa kebutuhan zaman sudah berubah. Saat ini orang lebih cenderung menyukai karya novel yang sarat dengan pesan-pesan normatis, ketimbang menikmati gaya bahasanya yang meliuk-meliuk, namun kehilangan roh religiusnya.

Tampaknya “mazhab Kang Abik” inilah yang kemudian mendobrak kebangkitan karya sastra di Tanah air yang selama ini terkesan didominasi oleh komunitas ’sastawan elit’, dan kemudian menjalar ke lapisan masyarakat umum. Pergeseran ini dapat dilihat dari antusias masyarakat awam yang mulai menyukai novel-novel sejenis Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, atau Laskar Pelangi dan sejenisnya. Dengan demikian, demensi yang harus diperhatikan oleh seorang kritikus novel adalah lebih menganalisis kepada kandungan essensinya, daripada kepada gaya diksinya.

copy from milist wordsmart center

Bersambung…

Older Posts »

Categories